Yu' Main Teka-teki..!

Kenapa kucing selalu menyembunyikan tahinya dengan pasir?
Jawabannya : Karena....takut di ambil kamu!!!

Kecil, Ijo, kalau disentuh meledak?
Jawabannya: Ulet bulu bawa bom.

Kenapa semua orang kalau jalan selalu mengayunkan tangannya?
Jawabannya : Karena mereka lagi pakai pakaian!! Kalau telanjang kan gak mungkin banget.

Ikan,ikan apa matanya paling sipit?
Jawabannya : Ikan teri cina

Seorang nenek hanyut di sungai,kira2 ketemunya dimana?
Jawabannya : ya di koran

Hewan apa yang paling panjang?
Jawabannya : Ular ngatri di loket

Hewan apa yang paling banyak matanya?
Jawabannya : Ikan teri satu ember

Atasnya putih, bawahnya kuning,apa hayo..?
Pocong nginjak e'ek
Selengkapnya...

Kenapa ya Terjadi Gempa?

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahanTipe gempa bumi

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Gempa bumi tektonik

Gempa bumi tektonik disebabkan oleh perlepasan [tenaga] yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan antara batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari tektonik plate (plat tektonik) menjelaskan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik.[1] Gempa bumi tektonik memang unik. Peta penyebarannya mengikuti pola dan aturan yang khusus dan menyempit, yakni mengikuti pola-pola pertemuan lempeng-lempeng tektonik yang menyusun kerak bumi. Dalam ilmu kebumian (geologi), kerangka teoretis tektonik lempeng merupakan postulat untuk menjelaskan fenomena gempa bumi tektonik yang melanda hampir seluruh kawasan, yang berdekatan dengan batas pertemuan lempeng tektonik. Contoh gempa tektonik ialah seperti yang terjadi di Yogyakarta, Indonesia pada Sabtu, 27 Mei 2006 dini hari, pukul 05.54 WIB,[2]
[sunting] Penyebab terjadinya gempa bumi

Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itu lah gempa bumi akan terjadi.

Gempa bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan lempengan tersebut. Gempa bumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan translasional. Gempa bumi fokus dalam kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer yang terjepit kedalam mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km.

Beberapa gempa bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi. Beberapa gempa bumi (jarang namun) juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam, seperti Dam Karibia di Zambia, Afrika. Sebagian lagi (jarang juga) juga dapat terjadi karena injeksi atau akstraksi cairan dari/ke dalam bumi (contoh. pada beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi dan di Rocky Mountain Arsenal. Terakhir, gempa juga dapat terjadi dari peledakan bahan peledak. Hal ini dapat membuat para ilmuwan memonitor tes rahasia senjata nuklir yang dilakukan pemerintah. Gempa bumi yang disebabkan oleh manusia seperti ini dinamakan juga seismisitas terinduksi
[sunting] Sejarah gempa bumi besar pada abad ke-20 dan 21

* 30 September 2009, Gempa bumi Sumatera Barat merupakan gempa tektonik yang berasal dari pergeseran patahan Semangko, gempa ini berkekuatan 7,6 Skala Richter mengguncang Padang-Pariaman, Indonesia. Menyebabkan sedikitnya 1.100 orang tewas dan ribuan terperangkap dalam reruntuhan bangunan.
* 2 September 2009, Gempa Tektonik 7,3 Skala Richter mengguncang Tasikmalaya, Indonesia. Gempa ini terasa hingga Jakarta dan Bali, berpotensi tsunami. Korban jiwa masih belum diketahui jumlah pastinya karena terjadi Tanah longsor sehingga pengevakuasian warga terhambat.

Kerusakan akibat gempa bumi di San Francisco pada tahun 1906
Sebagian jalan layang yang runtuh akibat gempa bumi Loma Prieta pada tahun 1989

* 12 September 2007 - Gempa Bengkulu dengan kekuatan gempa 7,9 Skala Richter
* 9 Agustus 2007 - Gempa bumi 7,5 Skala Richter
* 6 Maret 2007 - Gempa bumi tektonik mengguncang provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Laporan terakhir menyatakan 79 orang tewas [3].
* 27 Mei 2006 - Gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. United States Geological Survey melaporkan 6,2 pada skala Richter; lebih dari 6.000 orang tewas, dan lebih dari 300.000 keluarga kehilangan tempat tinggal.
* 8 Oktober 2005 - Gempa bumi besar berkekuatan 7,6 skala Richter di Asia Selatan, berpusat di Kashmir, Pakistan; lebih dari 1.500 orang tewas.
* 26 Desember 2004 - Gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,0 skala Richter mengguncang Aceh dan Sumatera Utara sekaligus menimbulkan gelombang tsunami di samudera Hindia. Bencana alam ini telah merenggut lebih dari 220.000 jiwa.
* 26 Desember 2003 - Gempa bumi kuat di Bam, barat daya Iran berukuran 6.5 pada skala Richter dan menyebabkan lebih dari 41.000 orang tewas.
* 21 Mei 2002 - Di utara Afganistan, berukuran 5,8 pada skala Richter dan menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas.
* 26 Januari 2001 - India, berukuran 7,9 pada skala Richter dan menewaskan 2.500 ada juga yang mengatakan jumlah korban mencapai 13.000 orang.
* 21 September 1999 - Taiwan, berukuran 7,6 pada skala Richter, menyebabkan 2.400 korban tewas.
* 17 Agustus 1999 - barat Turki, berukuran 7,4 pada skala Richter dan merenggut 17.000 nyawa.
* 25 Januari 1999 - Barat Colombia, pada magnitudo 6 dan merenggut 1.171 nyawa.
* 30 Mei 1998 - Di utara Afganistan dan Tajikistan dengan ukuran 6,9 pada skala Richter menyebabkan sekitar 5.000 orang tewas.
* 17 Januari 1995 - Di Kobe, Jepang dengan ukuran 7,2 skala Richter dan merenggut 6.000 nyawa.
* 30 September 1993 - Di Latur, India dengan ukuran 6,0 pada skala Richter dan menewaskan 1.000 orang.
* 12 Desember 1992 - Di Flores, Indonesia berukuran 7,9 pada skala richter dan menewaskan 2.500 orang.
* 21 Juni 1990 - Di barat laut Iran, berukuran 7,3 pada skala Richter, merengut 50.000 nyawa.
* 7 Desember 1988 - Barat laut Armenia, berukuran 6,9 pada skala Richter dan menyebabkan 25.000 kematian.
* 19 September 1985 - Di Mexico Tengah dan berukuran 8,1 pada Skala Richter, meragut lebih dari 9.500 nyawa.
* 16 September 1978 - Di timur laut Iran, berukuran 7,7 pada skala Richter dan menyebabkan 25.000 kematian.
* 4 Maret 1977 - Vrancea, timur Rumania, dengan besar 7,4 SR, menelan sekitar 1.570 korban jiwa, diantaranya seorang aktor Rumania Toma Caragiu, juga menghancurkan sebagian besar dari ibu kota Rumania, Bukares (Bucureşti).
* 28 Juli 1976 - Tangshan, Cina, berukuran 7,8 pada skala Richter dan menyebabkan 240.000 orang terbunuh.
* 4 Februari 1976 - Di Guatemala, berukuran 7,5 pada skala Richter dan menyebabkan 22.778 terbunuh.
* 29 Februari 1960 - Di barat daya pesisir pantai Atlantik di Maghribi pada ukuran 5,7 skala Richter, menyebabkan kira-kira 12.000 kematian dan memusnahkan seluruh kota Agadir.
* 26 Desember 1939 - Wilayah Erzincan, Turki pada ukuran 7,9, dan menyebabkan 33.000 orang tewas.
* 24 Januari 1939 - Di Chillan, Chile dengan ukuran 8,3 pada skala Richter, 28.000 kematian.
* 31 Mei 1935 - Di Quetta, India pada ukuran 7,5 skala Richter dan menewaskan 50.000 orang.
* 1 September 1923 - Di Yokohama, Jepang pada ukuran 8,3 skala Richter dan merenggut sedikitnya 140.000 nyawa.


sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi

Selengkapnya...

Pertama menjadi Kelima

Kepareng matur babagan Ardhiwana nderek sayembara napak tilas astana kuntul nglayang warsa 2009

Tahun 2009 ini tidak menjadi tahun keberuntungan bagi Ardhiwana. Lha Emang?
Tradisi Keluarga Keraton Hadiningrat Wilayah Kendal yang setiap tahun mengadakan lomba Napak Tilas untuk kalangan kaum muda/pelajar. Kegiatan ini bertujuan menelusuri kisah dan sejarah berdirinya Kab. Kendal dan Kaliwungu beserta tokoh-tokoh yang berkaitan erat akan hal tersebut.

Seperti biasa, kegiatan dimulai dengan upacara pembukaan secara tradisi jawa keraton (Mataram) pada jam 07.30 wib setelah para peserta melakukan daftar ulang.
Ardhiwana yang mengirimkan dua regu -satu putra dan satu puturi- mewakili dari SMA 1 Cepiring, lagi-lagi menjadi peserta dengan urutan terakhir.
Kebetulan atau tidak, pada napak tilas tahun 2008 regu putra Ardhiwana mendapat undian nomor dada 11 dan untuk putri nomor 10, begitupun kali ini dengan keadaan yang sama.

Namun kesamaan keadaan tersebut tidak diikuti pula oleh sang dewi fortuna -dewi keberuntungan- dimana pada tahun 2008 Ardhiwana melalui regu yang putri dapat meraih sebagi yang tergiat pertama sehingga menjadi juara umum. Pada napak tilas kali ini Ardhiwana hanya bisa meraih juara harapan 2, sehingga sangat disayangkan dan kekecewaan pun melanda para anggota Ardhiwana terutama pada regu putri.

Mereka belum bisa menerima kenyataan sehingga setelah pengumuman hasil lomba, langsung minta pulang ke kampus. Dari sini dapat dipetik hikmah, bahwa setiap kegagalan belum berarti orang lain yang lebih pandai atau kita yang lebih bodoh. Melainkan seberapa kuat keinginan kita untuk membenahi diri dan berusaha untuk memperbaikinya.

munjuk atur purna...
Selengkapnya...

Raja-raja Jawa

Dalam buku Sang Prabu Sri Adi Djojobojo, tulisan Bambang Yudoyono diterangkan bahwa sampai kini sebagian masyarakat Indonesia (baca:masyarakat Jawa) percaya bahwa Raja Jayabaya dari Kediri itu merupakan keturunan dewa. Dijelaskan pula bahwa Raja Jayabaya sebagai titissan Wisnu yang bertugas menata hidup manusia. Maka untuk mengetahui secara jelas raja-raja yang memerintah Tanah Jawa dapat diurutkan sebagai berikut:

I. Kerajaan Kediri/Mamenang
Sang Prabu Sri Aji Jayabaya kawin dengan Dewi Sara, berputera empat orang terdiri dari tiga orang wanita dan seorang laki-laki bernama Prabu Jayaamijaya yang kemudian menjadi raja di Kediri Mamenang menggantikan ayahnya.
1. Prabu Jayamijaya kawin dengan Dewi Satami berputera dua orang seorang diantaranya bernama Prabu Jayaamisena, menggantikan raja.
2. Prabu Jayaamisena kawin dengan Dewi Citraswara berputera dua orang, yang pertama bernama Prabu Kusumacitra menjadi raja dan memindahkan kerajaan ke Pengging.

II. Kerajaan Pengging
3. Prabu Kusumacitra beristri dua, berputera lilma orang. Dengan Dewi Soma lahir Prabu Citrasoma yang menggantikan ayahnya menjadi raja di Pengging.
4. Prabu Citrasoma beristri dua orang, berputera empat orang. Dengan Dewi Sriati berputera tiga orang, dan anak yang nomor dua bernama Prabu Pancadriya, menjadi raja di Pengging.
5. Prabu Pancadriya bersitri dua orang berputerakan empat orang. Dengan Dewi Gandrawati antara lain berputera Prabu Anglingdriya yang kemudian menjadi raja Pengging.
6. Prabu Anglingdriya beristri dua orang dan berputera tiga orang. Dengan Dewi Sinta berputera Prabu Sulawelacala, yang menjadi raja dan memindahkan ke Medang Kemulan, dan Prabu Pandayanata menggantikannya sebagai raja.

III. Kerajaan Medang Kemulan
7. Prabu Suwelacala bersitri lima orang dan berputera lima orang. Dengan Dewi Darmastuti berputera Prabu Sri Mapunggung (nomor 5) menjadi raja di Purwacarita.

IV. Kerajaan Purwacarita
8. Prabu Sri Mapunggung beristri lima orang dan berputera tujuh orang. Dengan Dewi sulastri lahir Jaya Lengkara (nomor 7), menjadi raja menggantikan ayahnya.
9. Prabu Jaya Lengkara beristri dua orang dan berputera lima orang. Dari Dewi Candralata lahir Resi Gatayu (nomor 5) yang kemudia menjadi raja dan pindah ke Jenggala.

V. Kerajaan Jenggala
10. Resi Gatayu beristri lima orang, dan berputera enam orang. Dengan Dewi Citraswara berputera: a. Dewi Kalisuci, yang kemudian menjadi penguasa makhluk halus. b. Prabu Lembuamiluhur menjadi raja di Jenggala.
11. Prabu Lembuamiluhur beristri enam orang, selir 40 orang berputera 100 orang. Dengan Dewi Tejaswara lahir Raden Panji Asmarabangun (nomor 97) yang ketika menjadi raja Jenggala bergelar Prabu Inu Kertapati.
12. Prabu Inu Kertapati beristri delapan. Dengan Dewi Candrakirana berputera seorang bernama Raden Labang yang ketika menjadi raja Jenggala bergelar Prabu Suryamiluhur, setelah itu memindahkan kerajaan ke Jawa Barat (Pajajaran) dan bergelar Prabu Panji Maesatandreman.

VI. Kerajaan Pajajaran
13. Prabu Panji Maesatandreman beristri empat orang berputera lima. Dengan Dewi Candrasari lahir Jaka Suparta yang kemudian menjadi raja Pajajaran bergelar Prabu Banjarsari. Pada saat itu pula kerajaannya dipindahkan ke Segaluh.
14. Prabu Banjarsari beristri 26 orang, dan berputera 78 orang. Dengan Kanjeng Ratu Agung berputera Prabu Mundingsari (nomor 15) menjadi raja Pajajaran/Segaluh.
15. Prabu Mundingsari beristri tiga, dan berputera enam orang. Dengan Dewi Warsiki lahir Prabu Mundingwangi yang kemudian menjadi raja Pajajaran.
16. Prabu Mundingwangi beristri tiga orang, berputera lima. Dengan Endang Setaman lahir Prabu Sunda Anyakrawati, disebut juga Prabu Pamekas menjadi raja Pajajaran.
17. Prabu Sunda Anyakrawati berputera 12 orang. Dengan Dewi Ambarsari berputera Raden Susuruh, yang kemudian menjadi raja Majapahit bergelar Pabu Bratana. Dan dengan seorang selirnya lahir Prabu Siyung Wanara yang menjadi raja Pajajaran dengan gelar Prabu Sri Mahasekti.

VII. Kerajaan Majapahit
18. Prabu Bratana beristri dua orang, berputera lima orang. Dengan Dewi Madani lahir Prabu Brakumara menjadi raja Majapahit.
19. Prabu Brakumara kawin dengan Dewi Dinding berputera Arya Adiwijaya menjadi raja Majapahit ke-3 bergelar Prabu Brawijaya I.
20. Prabu Brawijaya I beristri dua orang, berputera empat orang. Dari istri Raden Ayu Pengging lahir Raden Hayam Wuruk menjadi raja Majapahit ke-4 bergelar Prabu Brawijaya II.
21. Prabu Brawijaya II beristri Dewi Panurun, lair Arya Lembuamisani, bergelar Prabu Brawijaya III.
22. Prabu Brawijaya III kawin dengan Dewi Retno Penjawi, lahir Prabu Bratanjung dan bergelar Prabu Brawijaya IV.
23. Prabu Brawijaya IV beristri dua orng, selir satu orang, berputera lima orang. Dengan Dewi Tampen lahir Arya Angkawijaya yang kemudian bergelar Prabu Brawijaya V.
24. Prabu Brawijaya V beristri dan selir banyak, berputera 117 orang:
a. Dengan istri dari Champa/China lahir Raden Fatah (nomor 13) menjadi Adipati di Demak dan menjadi raja bergelar Sultan Sah Alam Akbar Sirrullah Khalifaturrosul Amirul Mukminin Tajuddin Abdul Hamidul Haq, atau Sultan Adil Surya Alam.
b. Dengan puteri Wandan berputera Raden Bondan Kejawan (nomor 14) bergelar Ki Ageng Tarub III yang kemudian kawin dengan Dewi Nawangsih dan berputera tiga. Putera nomor dua bernama Raden Depok yang bersahabat dengan Sunan Mojo Agung dan diambil menantu, diberi gelar Ki Ageng Getas Pendowo.
25. Ki Ageng Getas Pendowo beristri dua orang, berputera 12 orang. Dengan puteri Sunan Mojoagung lahir Bagus Senam yang kemudian bergelar Ki Ageng Selo.
26. Ki Ageng Selo beristri dua orang, berputera 14 orang. Dengan istri mudanya, lahir Ki Ageng Henis atau Ki Ageng Ngenis atau Ki Ageng Laweyan.
27. Ki Ageng Ngenis beristri puteri dari desa Selo berputera dua orang, yang pertama bernama Bagus Kuncung atau Ki Ageng Pemanahan.
28 Ki Ageng Pemanahan beristri satu dan mempunyai beberapa selir, berputera 31 orang. Dengan istri resmi (mungkin puteri Nyai Ageng Saba istri Ki Ageng Sueb) lahir Raden Bagus Danar atau Raden Ngabehi Sutowijoyo yang kemudian mendirikan kerajaan Mataram dan menjadi raja.

VIII. Kerajaan Mataram
29. Panembahan Senopati Sutowijoyo beristri banyak, berputera 23 orang. Dengan istri dari Pati berputera Raden Mas Jolang menjadi raja Mataram dengan gelar Kanjeng Susuhunan Hadi Prabu Anyakrawati. Meninggal dunia ketika berburu di hutan Krapyak, selanjutnya dikenal dengan Kanjeng Sunan Seda Krapyak atau Panembahan Krapyak.
30. Raden Mas Jolang kawin dengan ratu Adi, lahir Raden Mas Rangsang menjadi raja Mataram bergelar Kanjeng Sultan Agung Prabu Anyokrokusumo Senopati Ing Alogo Ngabdurrahman Sayidin Panata Dinan Ing Mataram.
31. Sultan Agung mempunyai beberapa orang istri dan berputera 12 orang. Dengwan Ratu Kilen (Batang), berputera Raden Mas Sayudin kemudian bergelar Sunan Amangkurat Agung.
32. Sunan Amangkurat Agung kawin dan berputera 22 orang;
a. Dengan ratu Kilen (Surabaya) berputera Raden Mas Rachmad yang kemudian menjadi raja Mataram Kartasura dan pengukuhannya dilakukan di atas geladak kapal Admiral, kemudian bergelar Sunan Amangkurat Amral.
b. Dengan Ratu Ageng berputera Raden MAs Derajad atau Pangeran Puger, yang kemudian menjadi raja di Mataram Kartasura, bergelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwono I di Kartasura.
33. Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Ikawin dan berputera 22 orang. Putera nomor 5 bernama Raden Mas Surya menjadi raja di Kartasura bergelar Prabu Amangkurat Jawi.
34. Kanjeng Susuhunan Amangkurat Jawi, kawin dan berputera 42 orang. Dengan Ratu Ageng, berputera Raden Mas Sandi (nomor 10) menjadi raja Kartasura bergelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwono II, dan memindahkan keraton dari Kartasura ke Surakarta. Dengan Ratu Ayu Tejowati berputera Raden Mas Sujono (nomor 21) yang kemudian menjadi raja Yogyakarta bergelar Kanjeng Sultan Hamengkubuwono I...dst.
35. Kanjeng Susuhunan Pakubuwono II selanjutnya menurunkan raja-raja Surakarta, dan Kanjeng Sultan Hamengkubuwono I menurunkan raja-raja di Keraton Yogyakarta. (*)


diambil dari Buku Babad Tanah Kendal karya Ahmad Hamam Rochani,
Selengkapnya...

Pangeran Sambong: Asal-usul Desa Sambungsari

Adalah Tumenggung Prawiro Setya atau Pangeran Sambong salah satu petinggi Mataram yang mengikuti pertemuan di paseban Kemangi dalam rangka persiapan menyerang VOC di Batavia. Ada tuturan lagi bahwa Pangeran Sambong adalah seorang keturunan China yang nama aslinya Sam Hong. Nama orang penting dari Mataram itu pada catatan cerita tutur erat sekali hubungannya dengan asal-usul terjadinya Kota Weleri (Nyai Damariyah), terlebih Desa Sambongsari.

Tentang nama Sam Hong pada diri Pangeran Sambong bisa dijadikan sebagai petunjuk bahwa tokoh sejarah masa lalu sudah terdiri dari berbagai suku dan bangsa. Dan seandainya benar Sambong itu berasal dari Sam Hong, juga bukan sebagai sesuatu kejadian yang aneh. Nama Sam Hong in erat sekali dengan adanya sebuah makam, yang konon katanya makam itu punya nama Nyah Ka Han. Petilasan Nyah Ka Han itu ada di sebelah balai desa Sambongsari. Petilasan itu hanya diberi tanda dua buah bakiak atau sandal yang terbuat dari kayu lunak.

Sebai pemimpin-pemimpin lainnya, Tumenggung Prawiro Setya atau Pangeran Sambong tidak diperkenankan kembali ke Mataram. Ia kembali dari Batavia satu rombongan dengan Raden Muthohar dan Raden Haryo Sungkono. Perpisahan ketoga tokoh Mataram terjadi setelah Raden Muthohar dan Raden Haryo Sungkono berketatapan tinggal di daerah yang dinamakan Sembung Tambar. Tumenggung Prawiro Setya kembali bertapa kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat dan menjadi warga masyarakat biasa. Artinya, gelar kebesarannya sebagai tumenggung dilepasnya dengan sukarela. Tetapi masyarakat sudah mengetahui bahwa ia adalah seorang petinggi Mataram yang ikut berperang melawan Belanda di Batavia.

Disebutkan dalam cerita tutur bahwa kehidupan di sebelah barat desa Sembung Tambar, ia bersama-sama dengan tokoh seperguruannya bernama Bah Brontok, seorang tokoh keturunan China. Tokoh lainnya ada yang menuturkan bernama Bagus Wuragil juga dikenal dengan nama Den Bagus Banteng dan Benowo. Nama yang terakhir itu bukanlah Benowo yang melekat erat dengan Pangeran Benowo putera Jaka Tingkir (ada yang menyebut Denowo bukan Benowo).

Pangeran Sambong dan Bah Brontok adalah sama-sama murid Tumenggung Rajekwesi atau Ki Ageng Kemangi. Namun keduanya bertolak belakang dalam menempatkan tujuan belajar pada Ki Ageng Kemangi. Pangeran Sambong cenderung pada aliran putih, sedangkan Bah Brontok lebih pada aliran hitam.

Tempat paseban Pangeran Sambong diceritakan berada di sebuah perbukitan, sebelah desa Sambongsari. Tempatnya di tengah-tengah hutan jati, yang sekarang ini dipercayai sebagai makam Pangeran Sambong. Di samping makam/patilasan Pangeran Sambong ada sebuah makam/patilasan lagi, yang dituturkan milik putera Pangeran Sambong bernama Pangeran Langsih.

Sebagaimana di daerah-daerah lain, Pangeran Sambong juga melaksanakan tugas penyiaran agama Islam dengan cara yang disesuaikan dengan keadaan.
Begitu mengenal nama Pangeran Sambong, ingatan kita tentu tertuju pada seorang tokoh dalam lakon sinetron. Dalam sinetron tersebut, disebut-sebut dengan Raden Samba, yang konon seorang putera adipati.

Melihat masanya, Raden Samba memang sejaman dengan tokoh-tokoh pejuang dari Mataram. Apakah nama Raden Samba yang kemudian hari ada kemirpa dengan Pangeran Sambong? Tentunya memang tidak gampang untuk cepat menjawab dengan "Ya" . Namun bila diperhatikan namanya, memang tidak terlalu jauh antara Raden Samba dengan Raden Sambong. Dengan demikian paling tidak ada kedekatan dengan Paseban Kemangi.

Hidup sejaman dengan Bah Brontok, ternyayta hubungan antara pangeran Sambong dengan Bah Brontok bagai minyak dengan air. Meskipun mereka sama murid Ki Ageng Kemangi atau Tumenggung Rajekwesi, keduanya mempunyai visi keilmuan yang berbeda. Dialog soal kunci kehidupan antara keduanya tokoh itu memang sering dilakuukan. Namun selalu tidak menemukan titik yang bagus.

Demikianlah alkisah menyebutkan, bahwa suatu hari Bah Brontok melakukan adu ayam dengan Pangeran Sambong. Ayam Petarung Pangeran Sambong berwarna merah penatas, sedangkan milik Bah Brontok berwarna jali. Tempat beradunya ditentukan yaitu di daerah Cakra Kembang, dekat Sungai/Kali Kutho. Orang yang suka melihat adu ayam tidak berani melihat dari jarak dekat, cukup dari kejauhan dan di tempat yang agak tinggi. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Tegalan Sedengok.

Setelah usai adu ayam, keduanya selalu memandikan ayamnya di sungai dekat Cakra Kembang. Oleh masyarakat, sungai itu dikenal dengan nama sungai/kali jenes (kotor). Ada yang menarik dalam adu ayam itu. Ketika selesai adu ayam, dan jika ayam Bah Brontok kalah tarung, maka dilanjutkan dengan perang tanding antarpemiliknya. Yang sering melakukan pertarungan dalam cerita tutur adalah Bah Brontok dan Bagus Wuragil, yang konon masih adik Pangeran Sambong.

Ada tuturan lagi, dalam adu ayam, Bah Brontok sering melakukan kecurangan-kecurangan. Melihat lawannya senang dengan kecurangan, maka Pangeran Sambong juga melakukan taktik yang sama. Pada salah satu kaki ayam milik Pangeran Sambong diberinya tutup kaki yang terbuat dari bambu, sehingga kelihatan bahwa kaki ayam miliknya disambung dengan bambu (pring-Jawa). Dengan demikian warna kulit kaki ayam itu menjadi tidak sama. Maka di Dukuh Bojengan, yang letaknya tidak jauh dari Cakra Kembang itu bila ada ayam yang warna kulit dua kaki yang berbeda diyakini bahwa ayam itu adalah milik Pangeran Sambong.

Tempat padepokan kedua tokoh itu memang tidak terlalu jauh. Pangeran Sambong tinggal di daerah yang bernama Sambong atau hutan Sambongan, sedangkan Bah Brontok tinggal di Alas Buntu di daerah Krengseng. Tempat yang pernah dijadikan ajang tadnign kesaktian oleh keduanya itu sekarang dengan nama Randu Sigunting. Disebut demikian karena pohon Randu itu tumbuh bercabang seperti gunting.

Sedangkan tempat lain, dituturkan berada di sekitar makam Penyangkringan sekarang. Pada jaman dulu, di dekat makam itu ada bekas tapak kuda Pangeran Sambong di sebuah tunggak jati. Bahkan pertarungan antara Bagus Wuragil dengan Bah Brontok jga pernah terjadi. Kejar mengejar antara keduanya hingga sampai hutan Seklayu yang terletak di daerah Lebo Krengseng. Dan di hutan itulah ada dua makam yang dikatakan oleh masyarakat sebagai makam atau patilasan Bagus Wuragil dan Bah Brontok.

Bagus Wruagil disebut dengan Den Bagus Banteng karena dalam pertarungannya dengan Bah Brontok, sepak terjangnya seperti kekuatan banteng. Dalam pertarungan dua tokoh itu, keduanya mencapai puncak pertarungan dengan meninggal secara bersama (Mogo bothongo - sampyuh).

Nama isteri Pangeran Sambong memang tidak jelas sosoknya. Sedangkan Nyai Wungu adalah sosok tokoh wanita yang terlebih dahulu datang di tempat itu. Begitu pula tentng Nyai Damariyah atau Sri Pandan atau Pandansari, tokoh wanita itu lebih muda dari Pangeran Sambong. Pertemuan tiga tokoh tersebut ternyata membawa berkah, karena ketiganya pernah bertemu di suatu tempat sebelum tinggal di daerah barunya itu. Tempat pertemuannya sekarang disebut-sebut dengan Sambung yang diambil dari pertemuan ketiga tokoh itu bisa menyambung persaudaraan kembali.

Dikisahkan bahwa Nyai Damariyah atau Sri Pandan adalah sosok wanita yang sangat cantik, dan diperebutkn oleh Bagus Wuragil dan Denowo (bukan Pangeran Benowo). Dalam cerita tutur itu diterangkan dengan jelas bahwa hati Nyai Damariyah lebih condong ke Bagus Wuragl. Karena dirinya menjadi rebutan dua tokoh yang sama-sama pengikut Pangeran Ssambong, hatinya sangat gelisah. Maka ia memilih hidup dengan Nyai Wungu.

Oleh Pangeran Sambong juga Nyai Wungu dinasihatkan, kalau Nyai Damariyah ingin tenang dari perebutan dua orang yang sama-sama menjadi sahabatnya, lebih baik Nyi Damariyah pergi ke tempat Ki Sido Mukti, yang letaknya di sebelah timur Sambongan.
Ki Ageng Sido Mukti sangatlah prihatin karena adanya perseteruan dua sahabat Nyai Damariyah yang memperebutkan Nyai Damariyah. Oleh Ki Ageng Sdo Mukti, Nyai Damariyah diperintahkan untuk mencucui beras (mesusi-Jawa). Sebagaimana biasanya tempat mencuci beras itu dilakukan di sungai. Diberitahukan oleh ki Sido Mukti bahwa ketika Nyai Damariyah mesusi beras, maka telusurilah di mana letak berhentinya air cucian (pesusan) beras itu. Di tempat berakhirnya air pesusan itulah Nyai Damariyah bisa hidup tenang dan tidak akan diganggu oleh siapapun.

Air pesusan beras itu disebut orang dengan "Leri". Ketika Nya Damariyah menelusuri di mana berhentinya air leri itu, ternyata berhenti tepat di bawah dua pohon pandan yag tumbuh berdampingan, dan ada pohon Lo, pada waktu itu disebut orang dengan nama pohon cangkring. Sehingga daerah di sekitar pohon Lo itu sekarang in dikenal dengan nama desa Penyangkringan. Sedangkan nama Nyai Damariyah dipanggil banyak orang dengan nama Nyai Pandansari atau Sri Pandan. Sedangkan sungai yang menjadi tempat mesusi/mencuci beras akhirnya dikenal dengan Sungai Damar atau Kali Damar.

Tentang akhir kehidupan Nyai Damar, ia memang lebih suka bertapa dan tempat yang dipilihnya adalah di bawah pohon pandan. Konon Nyai Damar yang sukses bertapa itu menjadi tokoh sakti pilih tanding. Tempat pertapaannya yang terakhir adalah di bawah pohon pandan yang terletak di tepi laut (pantai dekat hilir sungai Damar/Laut Jawa). Dan sudah menjadi catatan khusus masyarakat Weleri bahwa desa itu mempunyai "danyang" seorang wanita yaitu Nyai Pandansari. Wallahu Alam.


dikutip dari buku Babad Tanah Kendal karya Ahmad Hamam Rochani,
Selengkapnya...

Curhat Kurangi Resiko Penyakit Jantung

Eh...temen-temen, aku tidak sedang ngegosip lho...??!!
Tau ga'? ternyata Curhat alias menyampaikan Curahan Hati itu ada positifnya lho...??


Setiap orang pasti pernah bercerita mengenai perasaannya (curhat), kepada orang lain. Tahukah Anda kalau kegiatan yang sering dianggap sepele itu ternyata dapat mengurangi resiko terkena penyakit jantung?

Prof. DR.dr Zubairi Djoerban SpPD, KHOM, Ketua Majelis Pengembangan Keprofesian (MPPK) PB. Ikatan Dokter Indonesia, mengatakan dengan kegiatan curhat seseorang mempunyai ventilasi terhadap apa yang ia rasakan. Dengan adanya ventilasi tersebut, seseorang dapat melepaskan stress yang ia alami.
Seperti yang diketahui, stress adalah salah satu penyebab penyakit jantung. "Curhat, silaturahmi, itu penting untuk mengurangi stress akibat pekerjaan atau lainnya. Curhat dapat dilakukan dengan adik, kakak, suami, istri, sahabat atau pears lainnya," ujar Zubari, di Hotel Sahid, Jakarta, Jumat ( 10/7 ).

Individu yang introvert juga harus mempunyai "ventilasi" itu, karena jika permasalahan terus dipendam bukan hanya penyakit jantung yang timbul, namun penyakit lain seperti maag atau nyeri pada bagian kepala. Namun serangan jantung yang diakibatkan kelainan fungsi organ ataupun bawaan tidak dapat dicegah dengan aktifitas ini

Meski curhat membantu, kata Zubairi, gaya hidup sehat juga harus diterapkan. "Lakukan olah raga minimal 30 menit, berhenti merokok, dan harus mengonsumsi makanan sehat. Dengan demikian resiko terkena jantung akan semakin minim," urainya.

Tapi, ingat lho temen-temen, bukan berarti nggosip alias ngomongin kejelekan orang lain.

sumber: KOMPAS, 10/7/09,

Selengkapnya...

Kyai Kendil Wesi (bag 2)

Usaha Pembunuhan pun beberapa kali dilakukan. Bahkan menurut cerita itu, Jaka Menot pernah dilarung ke laut, namun masih bisa selamat. Dan ketika ada usaha untuk meracuni melalui pelayan kerabat, Jaka Menot jga selamat.

Maka tidak ada jalan lain kecual harus dibunuh, tetapi ada yang menyarankan cara itu memang kurang baik. Maka cara yang terbaik Jaka Menot diusir dari kadipaten. Setelah meninggalkan kadipaten, maka diatur supaya ada punggawa mengejarnya dengan maksud untuk membunuh Jaka Menot.

Ada tuturan lagi, bahwa baik orang-orang kabupaten ataupun Belanda, merasa takut dengan kemampuan spiritual Bagus Aminoto. Diterangkan, kemampuan seorang remaja yang baru berusia belasan tahun sudah diketahui biasa bermain-main batu dan rumput. Konon batu-batu itu dibuat semacam tasbih dengan cara ditusuk dengan rumput dan ternyata bisa tembus.

Jaka Menot lari ke arah barat dan ternyata banyak juga orang merasa iba, karena para punggawa kakdipaten tersu mengejarnya untuk membunuh. Kenmudian ia ditolong oleh seorang tua. Namun pengejaran tersu dilakukan, dan orang tua yang diketahui menolong Jaka Menot, dibunuh. Kepalanya terpisah dari badannya, dan kakinya juga dipotong. Hanya tinggal badan (gembung). Di kemudian hari nama tempat membunuh orang tua itu terkenal dengan nama Bugangin.

Jaka Menot terus berlari mencari selamat. Karena merasa capek, ia beristirahat di sebuah pohon pinang (jambe). Ia terus dikejar oleh punggawa kadipaten. Setelah melihat para punggawa terus mengejar, Jaka Menot terus lari. Ketika para punggawa sampai di bawah pohon jambe itu, tercium bahwa ada bau harum pada pohon jambe. Maka tempat itu dinamakan Jambearum.


disadur dari buku 'Babad Tanah Kendal' karya Ahmad Hammam Rochani.
Selengkapnya...

Siapa Kyai Kendil Wesi? : adakah hubungannya dengan Bagus Menot

Siapakah Kyai Kendil Wesi itu?
Menurut catatan Amien Budiman, Kyai Kendil Wesi itu nama aslinya adalah TUmenggung Singowijoyo. Bupati Kendal ini tewas di gunung Tidar Magelang ketika terjadi geger Pakunegaran. Kemudian ia digantikan oleh kemenakannya dengan gelar Tumenggung Mertowijoyo. Dan setelah meninggal digantikan oleh adiknya dengan nama kehormatan yang sama yaitu Tumenggung Mertowijoyo, yang meninggal di Loji Semarang. Tumenggung ini mempunyai putera yang bernama Mertowijoyo yang kemudian lebih dikenal dengan Mertowijoyo I.

Sedangkan catatan yang beredar di Kendal menerangkan bahwa yang dimaksud Kyai Kendil Wesi adalah bupati Kendal yang memiliki nama Mertowijoyo II, adik dari Tumenggung Singowijoyo yang memerintah pada tahun 1700 - 1725. Meninggal dan dimakamkan di pemakaman Pekuncen Kendal. Sedangkan pusakanya yang bernama Kendil Wesi diwariskan pada puteranya yang namanya juga nunggak semi dengannya yaitu Mertowijoyo III. Setelah meningal dunia, jenazah dan pusaka Kendil Wesinya dimakamkan di bawah pohon Doropayung Desa Sukolilan Patebon Kendal.

Nama Mertowijoyo jgua ditemukan dalam buku Serat Babad Negari Semarang dan Babad Mentawis. Dalam Serat Babad Nengari Semarang diterangkan bahwa nama Mertowijoyo itu masih ada hubungannya dengan Ki Ageng Pandan Aran I (Ki Mode Pandan), penguasa Semarang atau Tirang Amper, yang berarti ada hubungan garis keturunan dengan Raden Fatah, Sultan Demak.

Lengkap silsilahnya disebut sebagai berikut; Raden Fatah (Demak) berputera Pangeran Sabrang Lor, berputera Pangerawn Pandan Aran I (Ki Mode Pandan), berputera Pangeran Kanoman bupati Semarang (adik Sunan Tembayat), berputera Kyai Khalifah, berputera Kyai Laweyan, berputera Kyai Sumendhi (Kyai Alap-alap, bupati Semarang), berputera Kyai Rangga Hadi Negoro (Surahadimenggala ke-2, bupati Semarang), berputera Kyai Ronggo Mertoyuda (Surahadimenggala ke-3, bupati Semarang), berputera Kyai Mertowijyoyo.

Namun menurut cerita yang dicatat dala buku peninggalan-peningglan kunodi Kendal disebutkan bahwa Mertowijoyo berasal dari Lumajang. Karena ada selisih keluarga dengan adiknya, ia mengalah dan membawa pengikutnya berlayar dan akhirnya terdampar di Kendal.
bersama pengikutnya ia membuka suatu daerah sebagai tempat tinggal, dan karena ia mempunyai sebauh pusaka yang berwujud kendil terbuat dari bes, maka ia terkenal dengan nama Kyai Kendil Wesi. Ia meninggal ketika geger pakunegaran di gunung Tidar Magelang, dan jenazahnya dimakamkan di Pekuncen Kendal. Sedangkan jabatan bupati jatuh ke tangan Mertowijoyo III, putera Mertowijoyo I berikut pusakanya.

Kemudian siapa yang dimaksud dengan Bagus Menot?
Diceritakan bahwa ia putera Tumenggung Mertowijoyo. Namun tidak jelas Mertowijoyo yang mana. Namun kalau dilihat dari cerita yang beredar di Kendal bahwa ia adalah putera adipati tetapi akhir hayatnya mukso tanpa nama. Bisa jadi ia adalah putera Adipati Mertowijoyo I. Sebab, ketika Mertowijoyo I meninggal dunia, jabatan bupati diwakili oleh patihnyasendiri (lihat dan perhatikan dalam nama-nama Bupati Kendal di bagian akhir).

Seperti diceritakan oleh juru kunci makam Bagus Menot, Pak Puji (50), serta para orang tua yang suka dengan cerita tempo dulu, bahwa Bagus Menot adalah putera seorang adipati. Ketika ayahnya kembali dari berperang (geger Pakunegaran) ia dalam keadaan terluka parah karena terkena sabetan senjata. Sedangkan isterinya dalam keadaan hamil. Sebelum Mertowijoyo meninggal dunia, ia berpesan kepada semua kerabat bahwa kelak yang menggantikan dirinya menjadi bupati Kendal adalah putera yang masih dalam kandungan. Bila ia nanti lahir laki-laki, harap diberi nama Jaka Aminoto. Dan apaibila menduduki kursi bupati namanya Adipati Aminoto. Begitu pesan ayahandanya, Mertowijoyo. Ada tuturan lagi, selain bernama Aminoto jga punya nama lain yaitu Raden Sutejo.

Kelahiran bayi Aminoto bersamaan dengan kematian sang ibu. Maka bayi Aminoto dirawat oleh keluarga. Ketika mencapai usia dewasa, kira-kira 17 tahun, malapetaka menimp dirinya. Orang yagn menduduki jabatan bupati warisan dari ayahnya merasa resah karena pewaris yang asli sudah tumbuh dewasa. Maka tidak ada jalan yang terbaik kecuali harus menyingkirkan sang pewaris dengan cara apapun.

selanjutnya...(klik di sini)

disadur dari buku 'Babad Tanah Kendal' karya Ahmad Hammam Rochani
Selengkapnya...

Sumbing (2)

Setelah tiba di basecamp Garung Wonosobo sekitar puku 13.30 wib, para ardhies istirahat untuk mempersiapkan diri dalam pendakian. Pada jam 4 sore Ardhiwana mulai melakukan perjalanan pendakian. Memang jalur Garung medannya lebih sulit. Itu dibuktikan pada awal perjalanan, setelah melewati rumah penduduk para ardhies harus melaluinya dengan tertatih-tatih karena tanjakan yang langsung ngetrek alis betul-betul nanjak.
Walaupun belum pernah mendaki gunung tersebut, Anwar prenges, Ibnu wakpo, Ari ucrit, berangkat sebagai leader di depan. MasDur selaku pembina di tengah dan di belakang ada MasDin dan Gianto jambul sebagai penyapu ranjau. Ketika terdengar adzan berkumandang para ardhies istirahat, kemudian bertayamum untuk melakukan shalat maghrib. Di situ mereka bersama rombongan dari pekalongan. Setelah semua selesai perjalanan kembali dilanjutkan dan kembal istirahat sekitar jam 8 malam. "Silahkan buat perapian dan isi perut kalian dengan mempraktekan kompor praktis kalian, jangan sampai ada yang kelaparan" begitu masDur memberikan intruksi. Tidak mau berlama lama dalam kedinginan karena suhu sudah mencapai 15 derajat celcius, para ardhies melanjutkan perjalanan. Namun di sini Ardhiwana mulai terpecah menjadi 2 kelompok. Dari 24 ardhies, empat lainnya tertinggal di belakang sebagai pecahan dua kelompok tersebut dan bertahan di pos 2 karena dua ardhies tidak kuat melanjutkan perjalanan. Sedangkan kelompok besar masih melanjutkan untuk menuju puncak. Setelah sekian jauh perjalanan, pada pos terakhir sebelum Pos Watu Kotak, Ayu dingkel tidak kuat dan pingsan. Sebagai pembina, masDur langsung mengintruksikan kepada para ardhies untuk mendirikan tenda. Namun dari 3 tenda -1 tenda doom dan 2 berjenis tenda biasa- yang di bawa, hanya 1 tenda yang bisa berdiri, yaitu tenda doom. Karena angin yang begitu kencang, 2 tenda lainnya tidak bisa didirikan. Akhirnya, "buat bifak, yang penting tubuh kalian tidak langsung terkena angin, cari selokan atau jalan air supaya lebih terlindung". Tanpa banyak cas cis cus mereka langsung melaksanakannya inturksi tersebut.
Alhamdulillah...sinar matahari masih bisa menghangatkan tubuh mereka. Setelah semua sarapan dan mengemasi perlengkapan, sekitar jam 8 dimulailah perjalanan untuk turun. "Tidak kita lanjutkan ke puncak, Mas?" tanya salah satu ardhies kepada masDur. Dengan alasan Karena persediaan logistik tidak mencukupi untuk melanjutkan perjalanan ke puncak maka lebih turun saja, jawabnya. Akhirnya alasan yang masuk akal tersebut bisa diterima dan mereka pun turun menuju basecamp. Sekitar jam 11 siang rombongan ardhies sampai di basecamp Garung, dan ternyata 1 kelompok kecil yang bertahan di pos 2 sudah turun dan sudh sampai lebih dulu di basecamp dalam keadaan selamat. Selanjutnya istirahat dan nge-camp sampai hari Senin sore menunggu jemputan mobil tiba. Seperti biasa, setelah turun gunung siang hari, malah harinya diadakan kegiatan ramah tamah. Masing-masing individu menyampaikan kesan dan pesannya setelah mengikuti pendakian. Ada yang sengsara, nelangsa, dan kaget ternyata pendakian itu tidak mudah dan nampak enak seperti yang ada di poto-poto kegiatan. Namun, kebanyakan dari mereka tidak merasa kapok dan mulai menyadari dan memetik pelajaran filosofinya. Bahwa bila seseorang yang sukses mencapai puncak tidak serta berjalan dengan mudah, akan tetapi layaknya orang mendaki puncak gunung, banyak jalan yang beraneka ragam bentuknya. Ada yang naik, turun, meliuk, harus melewati jurang, dan lain sebagainya. Intinya begitulah semestinya, bila seseorang ingin mencapai sukses harus bisa dan berani melewati rintangan tersebut. Keesokan harinya, Senin sore jam 14.00 wib, mobil penjemput pun datang. Dengan bersuka ria juga rasa kangen akan tempat tersebut rombongan meninggalkan basecamp menuju kampus SMAN 1 Cepiring, syonaraa......tiba di kampus jam setengah lima sore.

"Mendaki bukan mencari mati, tetapi mencari jatidiri"
"Kesuksesan tidak diraih dengan sejengkal langkah yang lurus, melainkan bisa dan berani melalui rintangan dan hambatan yang berliku"
Selengkapnya...

Menantang, Dihajar SUMBING

Hah...! (dalam batin) "Ternyata tidak seperti dugaanku ketika menaklukan UNGARAN".
Purna anggota atau pelepasan keanggotaan untuk kelas XII, merupakan salah satu tradisi di Ardhiwana. Kegiatannya dilakukan dengan bentuk pendakian gunung. Nah..! Untuk yang ke-4 ini, yang dituju adalah Gunung Sumbing yang berketinggian 3371 mdpl. Melalui jalur Garung, Wonosobo, 27 Juni 2009 Ardhiwana berangkat dari kampus SMAN 1 Cepiring dan tiba di basecamp pukul 13.30 WIB. Setelah istirahat selama kurang lebih dua setengah jam, tepatnya jam 4 sore, perjalanan pun dimulai. Kegiatan ini diikuti oleh 19 siswa ditambah 2 alumni serta seorang pembina yang dibantu 2 orang pemandu.
Gunung Sumbing memang betul-betul segagah bentuknya. Jalur pendakian Garung adalah jalur yang dinilai lebih menantang, karena medan yang dilalui lebih jauh, lebih terjal dan lebih sulit. Pada start pertama saja, dari pemukiman penduduk pendaki harus menempuh medan dengan ngetrek atau tanjakan yang cukup tinggi kemiringannya.


gambar-gambar lain
Selengkapnya...

Kenapa Memilih Rokok Bukan Susu..?

Setiap individu, terlebih lagi anak-anak, sangat memerlukan susu untuk mencukupi kebutuhan vitamin D, nutrisi, dan kalsium. Namun sayang, dibanding negara Asia Tenggara lainnya, konsumsi susu masyarakat Indonesia paling rendah.

Menurut Dr IR Erica B Laconi, MS, dosen Teknologi dan Industri Pangan, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian tahun 2007, konsumsi susu Indonesia adalah 6 liter per kapita per tahun, Malaysia 20 liter per kapita per tahun, India 45 liter per tahun, dan Vietnam lebih dari 10 liter per kapita per tahun.

Kata dia lagi, yang lebih memprihatinkan lagi, hampir 90 persen atau setara dengan 4 juta liter per hari hanya dikonsumsi oleh masyarakat perkotaan.

Rendahnya konsumsi susu tersebut bukan karena rendahnya pendapatan perkapita, melainkan rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya susu. "Orangtua, terlebih bapak-bapak, lebih memilih untuk membeli rokok daripada susu untuk anak mereka," ucap Erica.

"Sedangkan pada masyarakat pedesaan, mereka lebih memilih untuk menjual hasil susu dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga," imbuhnya.

Jika hal tersebut terus berlanjut, Erica mengkhawatirkan akan terjadi lost generation, yang mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. "Setiap orang seharusnya mengonsumsi minimal satu gelas susu sehari, itu sudah sangat membantu. Lebih dari itu lebih bagus, jangan takut gemuk karena susu tidak membuat gemuk," saran dia.

Sumber : KOMPAS


Selengkapnya...