Jumat, 01 November 2013
LPJ Sekaligus PAB
Sabtu, 12 Oktober 2013
Atasi Masalah Beban, Gunakan yang Serba Praktis
Senin, 08 Juli 2013
Kabut Tebal, Pendakian (Sindoro) Dihentikan
Minggu, 24 Juli 2011
Ardhiwana: SEVEN SUMMIT






Ini adalah kali ketiga Ardhiwana melakukan pendakian Gunung Merbabu. Melalui jalur Thekelan, sekitar pukul setengah sepuluh malam para ardhies -sebutan anggota Ardhiwana- melakukan perjalanan pendakian.
Sebagai agenda rutin, setiap akhir tahun semester, Ardhiwana mengadakan kegiatan "purna anggota" sebagai salah satu ritual akhir yang diperuntukan bagi kelas XII yang baru saja dinyatakan LULUS sekolah dan keluar dari keanggotaan secara akademik. Pendakian gunung gede adalah salah satu bentuknya. Dan kali ini Gunung Merbabu yang menjadi target obyek tujuan. Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari, 25 - 27 Juli 2011 ini diikuti oleh 22 ardhies -cowok dan cewek- dan 12 alumni.
Setelah berkumpul di kampus SMANCEP, dengan diangkut sebuah truk, sekitar jam 14.10 rombongan ardhies berangkat menuju Thekelan, Salatiga, dan tiba di Kopeng, Salatiga jam 17.00. Setelah beristirahat, 30 menit kemudian perjalanan dilanjutkan menuju basecamp Thekelan dengan berjalan kaki, dan... 2 jam pas rombongan tiba.
"Gunakan waktu istirahat kalian sebaik-baiknya, nanti pendakian akan kita mulai jam 9" Masdur memberikan instruksi kepada para ardhies setelah semua rombongan tiba di basecamp. Para ardhies pun tanggap dan langsung melakukan instruksi tanpa harus bertanya dua kali.
Jarum jam menunjukan pukul 9, aktivitas persiapan yang diinstruksikan sudah mulai nampak, dengan beberapa ardhies yang sudah melakukan penataan tas (packing). Kemudian Hesti Udel -ketua Ardhiwana- memberi instruksi agar para ardhies untuk berkumpul di depan basecamp sebagai langkah persiapan pendakian. Setelah semua berkumpul, giliran Masdur selaku Pembina Ardhiwana memberikan sedikit pengarahan kaitannya dengan pendakian yang akan dilakukan. Pendakaian pun dimulai seusai doa bersama oleh rombongan, "Sekarang jam 21.30... ayo jalan..!!" dengan melangkah lebih dulu Masdur sebagai pionir di depan. Rombongan dibagi 3 kelompok. Pertama dipimpin langsung oleh pembinanya, kelompok kedua didampingi MasDin Bonek, dan kelompok terakhir didampingi Giyanto Jambul.
Sejatinya pendakian ini memakan waktu 6 sampai 8 jam, namun di tengah perjalanan, sekitar pukul 2 pagi, setelah melewati POS terakhir, dua anggota pingsan, Mita Liu-liu dan Rosi Beling. Akhirnya Masdur memberi perintah untuk istrihat dan perjalanan akan dilanjutkan setelah mereka berdua sadar dan setelah matahari terbit. "Gunakan jurus kalian" seru Masdur agar para ardhies membuat bivak atau tenda darurat tempat mereka istirahat dan tidur.
Keesokan harinya, setelah kondisi tubuh sudah hangat dan sedikit bertenaga -karena semua sudah sarapan- sekitar pukul 7.15 perjalanan dilanjutkan dengan target awal, PUNCAK 1 yaitu Pertapan atau lebih dikenal dengan Watu Gubug. Watu Gubug karena di puncak yang berketinggian 2735 mdpl ini terdapat batu besar yang berlubang di tengahnya sehingga bisa dijadikan tempat untuk berteduh.
Dari sini rombongan betul-betul terbagi dan terpisah. Kelompok ketiga memilih untuk istirahat, dan menunggu kelompok pertama dan kedua turun dari perjalanan pendekaian yang akan dilanjutkan. Akhirnya dua kelompok pun meneruskan perjalan dan juga terpisah di tengah perjalanan. Pukul 8.45 Kelompok pertama tiba lebih dulu di Watu Gubug. Setelah 15 menit istirahat, perjalan kembali dilanjutkan, dan... akhirnya sampailah pada PUNCAK 2 Watu Tulis atau Menara (karena terdapat menara yang dibuat oleh TNI). Dan...berakhir di sini pula sisa-sisa kekuatan para ardhies ditunjukkan, waktu menunjukan jam 9.45. Sejatinya masih ada 5 puncak lagi yang harus dicapai untuk bisa dikatakan melakukan pendakian "Seven Summit (tujuh puncak)", tapi apa daya, hanya sampai disini kekuatan yang dimiliki para ardhies yang notaben masih pemula.
Setelah waktu istirahat cukup, sekitar pukul 10.30, rombongan memutuskan untuk turun gunung. Dan tiba di basecamp pukul 2 siang, istirahat sampai esok berikutnya.
Keesokan harinya, Senin 27 Juli tepat jam 9 pagi rombongan berkemas menuju Kopeng karena sudah mobil penjemputan berada di sana. and...go home..back to campus SMANCEP.
Rabu, 05 Januari 2011
Akhrinya Taklukan Puncak Ungaran
Walau sekelas G. Ungaran yang berketinggia 2050 mdpl, bagi pendaki pemula sudah cukup membanggakan bisa sampai ke puncak yang ditandai dengan monumen BANTENG RAIDER itu.
Pada dasarnya KEMBER ini bertempat di Medini. Namun, untuk PA melanjutkan ke Candi Promasan, karena sesuai jadwal dan kesepakatan, kegiatan PA lebih banyak di area Candi Promasan. Karena bertepatan dengan hari Jumat, peserta tidak langsung melakukan kegiatan masing-masing, akan tetapi menunggu solat Jumat selesai karena mayoritas peserta beragama Islam. Jadwal pertama adalah outbond fungames yang diikuti oleh seluruh peserta yang meliputi 7 bentuk kegiatan. Setelah terbentuk 8 kelompok outbond pun dimulai diantaranya banteng takeshi, pindah sarung dalam lingkaran, bambu bola, bambu air, pita lingkar, dan gobak sodor. Kegiatan yang dipandu Pak Yoshie itu selesai pukul 16.30 wib, dan istirahat.
Nah, dari sinilah acara Ardhiwana dimulai. Setelah keperluan pribadi sudah dilaksanakan, para ardhies -sebutan anggota ardhiwana- berkemas untuk melakukan perjalanan menuju Promasan. Dalam kondisi hujan, para ardhies tetap melakukan perjalanan seusai mendapat pengarahan dari Pak Yosh sekitar pukul 19.00.Dan Perjalanan pun dimulai. Dengan berselimut jas hujan dibantu penerangan lampu senter, para ardhies tetap enjoi melakukannya. Tepat pukul 21.15, para ardhies tiba di Dusun Candi Promasan dan ngecamp istirahat di rumah Pak Wit.

Dalam kedinginan mencapai 13 derajat para ardhies beristirahat melepas lelah sembari mengisi perut dengan memasak secara survive sesuai dengan yang mereka pelajari untuk bertahan hidup di alam bebas.Setelah dua jam bertahan dan stamina mulai terkumpul, para ardhies melanjutkan turun gunung untuk melakukan kegiatan selanjutnya yaitu pengambilan tanda anggota bagi anggota baru. Dalam ardhiwana istilah ini disebut PENGKAOSAN. Karena di ardhiwana untuk bisa disebut sebagai anggota tetap adalah dengan menyelesaikan ritual ini setelah penrimaan anggota baru.
Di Promasan ini, ardhiwana mengakhiri kegiatan pada Minggu pukul 9.30 dengan melanjutkan perjalanan menuju Medini untuk bergabung kembali dengan elemen yang lain yang bertahan dan ngecamp di situ. dan pukul 10.30 caoo...sayonaraaa... (back to campus SMANCEP sekitar pukul 12.30)
Selasa, 29 Juni 2010
Wonder Women Menjelajah Sindoro
"Ah, sedikit pusing nih, peserta junior ardhiwana cewek semua, mana mau naik gunung gede lagi, sanggup gak ya?"
Itulah yang terbesit pertama kali di benak MasDur sebagai pengasuh Ardhiwana.
Di akhir semester 2 ini, Ardhiwana melaksanakan agenda akhir tahunan yaitu PURNA ANGGOTA atau pelepasan keanggotaan secara organisasi bagi kelas XII yang sudah lulus. Kegiatan yang dilakukan adalah pendakian gunung. Dan pada tahun ini tepatnya tanggal 26 - 28 Juni 2010 kemarin, ardhiwana berusaha menaklukan gunung Sindoro yang memiliki ketinggigan 3136 mDPL.
Jalur yang dipilih untuk melakukan perjalanan adalah jalur JUMPRIT tepatnya desa Sekajar Wonosobo alias jalur barat.
Pendakian kali ini cukup fantastik karena peserta dari juiornya alias kelas X terdiri dari cewek semua sehingga mas Dur memberi nama pada angkatan junior ini dengan sebutan "Angkatan Wonder Women" dengan maksud pengikutnya adalah cewek-cewek yang perkasa.
Pukul 9 pagi rombongan berangkat dari SMA 1 Cepiring setelah dilepas oleh pihak sekolah, Pak Yoshi selaku waka ur kesiswaan dan sampai di bascamp pukul 11 siang. Dipandegani oleh mas Dur, para ardhies mulai melakukan perjalanan pada pukul 5 sore. Walaupun cuaca pada awal perjalanan kurang bagus alias gerimis -sebentar-, namun dengan semangat membara perjalanan tetap dilakukan.
Rombongan mulai istirahat setelah waktu memasuki solat magrib. Diimami oleh Kimbir dan Gesbi para ardhies secara bergelombang melakukan solat jamaah. Pun demikian ketika memasuki waktu solat isak.
Sekian lama perjalanan dilakukan, rombongan pun terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang pertama dipimpin oleh mas Dur sedangkan kelompok kedua didampingi oleh Jambul.
Sekitar pukul 11.30 malam para ardhies sampai di area zona puncak persis di bawah tebing putih dan istirahat sampai pagi. Keesokan harinya, sekitar jam 8 pagi perjalanan dilanjutkan turun gunung menuju basecamp. Akhirnya sampai juga...dan istirahat persis jam 12 siang.
Koleksi poto pendakian KLIK disini
Sabtu, 23 Januari 2010
PTA 2009
Berangkat dari Medini, para ardhies melakukan perjalanan ritual menuju Promasan pada pukul 13.00 wib. dan sampai di Promasan pada pukul 16.00 wib.
Namun, cerita menarik dan unik kembali menghiasi kegiatan ardhiwana kali ini.
Dari 12 peserta, mereka di bagi menjadi 4 kelompok yang beranggotakan 3 orang setiap kelompoknya. Pemberangkatan peserta diurutkan sesuai urutan kelompoknya. Nah, disinilah kejadian itu bermula.
Perjalanan dimulai dari Medini menuju Promasan. Sepanjang perjalanan para ardhies diguyur hujan yang tiada henti. Ketika waktu menunjukan jam 4 sore, peserta sudah sampai ke tempat tujuan. Setelah dikumpulkan, kelompok yang diberangkatkan dengan urutan kedua belum sampai. Mestinya kalau mereka istirahat, kelompok yang berada di belakangnya akan tahu bahwa mereka sedang istirahat di suatu tempat. Namun, semua tidak ada yang tahu. MasDur selaku pembina merasa khawatir karena sampai jam 5 kelompok yang belum sampai tidak nongol-nongol. Akhirnya masDur bersama Jambul, Idris dan Prenges berusaha mencari dengan route kembali ke Medini. Di tengah perjalanan ketemulah dengan mereka -kelompok yang dinyatakan hilanhg- dalam keadaan kelelahan tetapi masih sehat2 saja. Dan ternyata, mereka salah jalur. Yang mestinya mengambil jalur lurus dan menurun, mereka mengambil arah kanan dan menanjak yang merupakan arah kembali ke Medini. Untung mereka masih berfikir positif yang kemudian mengambil arah kembali ke semula dan akhirnya...sampai juga.
Tidak jadi hilang dechh....alhamdulillaah...
Senin, 30 November 2009
PAB 2009
Wakasek Urusan Kesiswaan menjadi pembina upacara sekaligus membuka kegiatan PAB yang dimulai pada hari Sabtu sampai Minggu, 28 - 29 November 2009 bertempat di kampus SMA 1 CEPIRING.
PAB kali ini cukup istimewa dan unik, mengapa? karena pada tahun ini peserta yang mengikuti kegiatan adalah ladies semua alias berjenis kelamin perempuan, tidak ada satu pun cowoknya. Namun, bagi ketigabelas ladies tersebut bukan suatu masalah yang berarti untuk tetap mengikuti PAB, bahkan mereka nampak sangat antusias.
Selamat memasuki dunia Ardhiwana untuk ladies2 sukses selalu untuk para "Wonder Women" Ardhiwana.
Salam Lestari...!!
Ardi GATHEL di Ardhiwana
Mulai bulan ini Ardhiwana sudah melakukan pemilihan ketua baru. Ardi Setiayandi Gathel ternyata dipercaya oleh teman-temannya untuk memegang tampuk pimpinan di Ardhiwana untuk periode 2009/2010. Satu minggu yang lalu tepatnya pada tanggal 21 November 2009 telah diadakan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) pengurus lama yang diketuai Anwar Prenges, sekaligus pemilihan pengurus baru.
Selasa, 25 Agustus 2009
Pertama menjadi Kelima
Kepareng matur babagan Ardhiwana nderek sayembara napak tilas astana kuntul nglayang warsa 2009Tahun 2009 ini tidak menjadi tahun keberuntungan bagi Ardhiwana. Lha Emang?
Tradisi Keluarga Keraton Hadiningrat Wilayah Kendal yang setiap tahun mengadakan lomba Napak Tilas untuk kalangan kaum muda/pelajar. Kegiatan ini bertujuan menelusuri kisah dan sejarah berdirinya Kab. Kendal dan Kaliwungu beserta tokoh-tokoh yang berkaitan erat akan hal tersebut.
Seperti biasa, kegiatan dimulai dengan upacara pembukaan secara tradisi jawa keraton (Mataram) pada jam 07.30 wib setelah para peserta melakukan daftar ulang.
Ardhiwana yang mengirimkan dua regu -satu putra dan satu puturi- mewakili dari SMA 1 Cepiring, lagi-lagi menjadi peserta dengan urutan terakhir.
Kebetulan atau tidak, pada napak tilas tahun 2008 regu putra Ardhiwana mendapat undian nomor dada 11 dan untuk putri nomor 10, begitupun kali ini dengan keadaan yang sama.
Namun kesamaan keadaan tersebut tidak diikuti pula oleh sang dewi fortuna -dewi keberuntungan- dimana pada tahun 2008 Ardhiwana melalui regu yang putri dapat meraih sebagi yang tergiat pertama sehingga menjadi juara umum. Pada napak tilas kali ini Ardhiwana hanya bisa meraih juara harapan 2, sehingga sangat disayangkan dan kekecewaan pun melanda para anggota Ardhiwana terutama pada regu putri.
Mereka belum bisa menerima kenyataan sehingga setelah pengumuman hasil lomba, langsung minta pulang ke kampus. Dari sini dapat dipetik hikmah, bahwa setiap kegagalan belum berarti orang lain yang lebih pandai atau kita yang lebih bodoh. Melainkan seberapa kuat keinginan kita untuk membenahi diri dan berusaha untuk memperbaikinya.
munjuk atur purna...
Selasa, 30 Juni 2009
Sumbing (2)
Walaupun belum pernah mendaki gunung tersebut, Anwar prenges, Ibnu wakpo, Ari ucrit, berangkat sebagai leader di depan. MasDur selaku pembina di tengah dan di belakang ada MasDin dan
Alhamdulillah...sinar matahari masih bisa menghangatkan tubuh mereka. Setelah semua sarapan dan mengemasi perlengkapan, sekitar jam 8 dimulailah perjalanan untuk turun. "Tidak kita lanjutkan ke puncak, Mas?" tanya salah satu ardhies kepada masDur. Dengan alasan Karena persediaan logistik tidak mencukupi untuk melanjutkan perjalanan ke puncak maka lebih turun saja, jawabnya. Akhirnya alasan yang masuk akal tersebut bisa diterima dan mereka pun turun menuju basecamp. Sekitar jam 11 siang rombongan ardhies sampai di basecamp Garung, dan ternyata 1 kelompok kecil yang bertahan di pos 2 sudah turun dan sudh sampai lebih dulu di basecamp dalam keadaan selamat. Selanjutnya istirahat dan nge-camp sampai hari Senin sore menunggu jemputan mobil tiba. Seperti biasa, setelah turun gunung siang hari, malah harinya diadakan kegiatan ramah tamah. Masing-masing individu menyampaikan kesan dan pesannya setelah mengikuti pendakian. Ada yang sengsara, nelangsa, dan kaget ternyata pendakian itu tidak mudah dan nampak enak seperti yang ada di poto-poto kegiatan. Namun, kebanyakan dari mereka tidak merasa kapok dan mulai menyadari dan memetik pelajaran filosofinya. Bahwa bila seseorang yang sukses mencapai puncak tidak serta berjalan dengan mudah, akan tetapi layaknya orang menda
"Mendaki bukan mencari mati, tetapi mencari jatidiri"
"Kesuksesan tidak diraih dengan sejengkal langkah yang lurus, melainkan bisa dan berani melalui rintangan dan hambatan yang berliku"
Senin, 29 Juni 2009
Menantang, Dihajar SUMBING
Purna anggota atau pelepasan keanggotaan untuk kelas XII, merupakan salah satu tradisi di Ardhiwana. Kegiatannya dilakukan dengan
Gunung Sumbing memang betul-betul segagah bentuknya. Jalur pendakian Garung adalah jalur yang dinilai lebih menantang, karena medan yang dilalui lebih jauh, lebih terjal dan lebih sulit. Pada start pertama saja, dari pemukiman penduduk pendaki harus menempuh medan dengan ngetrek atau tanjakan yang cukup tinggi kemiringannya.
gambar-gambar lain
Senin, 16 Februari 2009
Survival CURUG SEWU, susah tapi senang
Kegiatan ini dimulai Sabtu, 14 Januari 2009. Dibuka dengan apel secara sederhana oleh MasDur selaku pembinanya. "Kunci sukses untuk bisa bertahan di Ardhiwana adalah bisa menikmati setiap kegiatan dan tidak banyak keluhan yang berlebihan, serta yang paling penting adalah bisa beradaptasi dengan lingkungan", katanya dalam pembinaan.
Pada pemateri, selain diisi oleh para alumni Ardhiwana juga mendatangkan pemateri dari luar untuk mengisi materi Ilmu tentang Gua (Speleologi) dan Penelusuran Gua (Caving). Beliau juga alumni SMA 1 Cepiring lulusan tahun 2001, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Sekolah Pondok Modern Selamat Kendal, Ahmad Syaifuddin atau lebih akrab dipanggil Asep.
Penyampaian materi-materi tersebut berlangsung dari pukul 19.30 sampai dengan pukul 22.30. Kemudian dilanjutkan dengan materi Ilmu Medan yang diisi oleh Masdur, pembina Ardhiwana sendiri. Dalam Ilmu Medan ini peserta -yang hanya diikuti oleh 3 anak dan semuanya cewek- langsung dituntut untuk praktik dengan cara mengelilingi desa Cepiring dalam keadaan malam hari dengan membaca peta yang sudah diberikan. Dan pelaksanaannya pun mereka harus bejalan sendiri -tidak beregu- mencari tempat yang dituju sesuai dengan intruksi di peta, karena materinya adalah survival invidu. Alhamdulillah semua selamat dan kegiatan malam bisa selesai pukul 02.00 pagi. Trus zZZzzz..zzzZz..Zz
Pagi harinya, pukul 07.00, adalah ritual kedua, Survival Kelompok. Tempat yang dituju adalah Curug Sewu, Patean. Dari Basecamp -SMA 1 Cepiring- Para ardhies (sebutan untuk anggota Ardhiwana) dengan menaiki truk berangkat menuju Sojomerto sebagai titik awal. Setelah turun dari mobil _tepatnya di area perhutani- para ardhies memulai perjalanan. Rute yang yang dilalui Dusun Klantung Ds Sojomerto - Muncar - Wonokerto - Kalices - Curug Sewu. Selama perjalanan ardhies terbagi 4 regu. Regu pertama sampai di tempat tujuan pada pukul 12.30, sedangkan regu terakhir pukul 13.30. "Nah, sekarang adalah ritual terakhir yang harus kalian lakukan yaitu pengkaosan sebagai perwujudan pengambilan tanda anggota" kata MasDur. Tanpa ba bi bu pengurus dan senior lainnya (termasuk kls X yang sudah jadi anggota resmi) mendadar 3 peserta yang semuanya cewek, Umi Hanik, Nur Faizah, dan Rizki Asih. Mereka disuruh masuk ke kubangan yang berisi air -setinggi paha- dan lumpur -setinggi lutut. Dengan maksud untuk menghayati makna air dan lumpur (tanah) dari segi filosofinya. Oleh seniornya -dan menurut versinya- dijelaskan maksud masuk ke air yang berisi lumpur (tanah) dan air adalah sepenuhnya rela dan ikhlas berjuang serta mencintai tanah air kita, Indonesia. Dan...selesai pukul 14.00 dilanjutkan bersih diri untuk yang didadar sementara yang lain istirahat, kemudian pukul 15.30, sayonaraa.......
Senin, 19 Januari 2009
PAB & PTA ARDHIWANA angkatan 2008
Dimulai Jumat, 2 Januari 2009, dengan transportasi 3 unit truk, peserta kember berangkat dari SMA 1 Cepiring pada pukul 08.30 pagi dan sampai di ds. Medini pukul 10.00 WIB. Setelah melaksanakan shalat Jumat, sekitar pukul 13.30 wib, peserta mulai melakuksn perjalanan menuju dusun Candi Promasan.
Berbeda dengan ekskul yang lain yaitu adanya kegiatan survival sebagai bentuk kegiatan perjalanan untuk ardhies -sebutan anggota Ardhiwana- maka para ardhies pun sebagai peserta terakhir yang sampai di tempat tujuan, Promasan atau Candi Promasan, sekitar pukul 17.15 wib.
PAB dan PTA kali ini diikuti 8 ardhies, 4 cowok dan 4 cewek, diantaranya Priatna Centhong, Tri Wahyono Kuwux, Ardhi Gathel, Fatchur Kelep, Diyah Apes, Ratna Selei, Ayu Dingkel, dan Yossi Pacet.
Bertempat di rumah Pak Wit -tempat transit- Ardhiwana memulai kegiatan PAB dan PTA di hari kedua sekitar jam 10 pagi, yaitu bersih gua Jepang. Dengan berbekal senter dan tas kresek peserta diminta masuk ke gua untuk membersihkan gua dari sampah terutama sampah organik mulai pintu masuk sampai pintu keluar, dan harus bersih. Setelah keluar dari gua, ardhies mengelilingi perkebunan teh sekitar Promasan untuk mendapatkan tugas selanjutnya. Dan berakhir jam 12 siang.
Sebelum kegiatan pemloncoan tersebut, Masdur -pembina Ardhiwan
Kegiatan pertama, Berdiri Secara Bersama, dengan tujuan utamanya bahwa dalam kegiatan secara berkelompok kita harus mengetahui bentuk kegiatannya, tingkat kesukaran kegiatan berbeda sehingga memerlukan strategi atau cara yang berbeda pula, kelemahan orang lain bukanlah penghambat dalam menuju keberhasilan kegiatan, kelebihan pada diri sendiri tidaklah menjadikan sombong dan menganggap orang lain tidak bisa. Kedua, Membangun Kepercayaan Diri, dengan tujuan utamanya bahwa dalam kegiatan secara berkelompok kita harus percaya pada diri sendiri, percaya kepada orang lain, menjaga amanat karena sudah dipercaya orang lain, dan berani mengambil resiko yang lebih mengutamakan kepentingan bersama. Ca
Setelah puas melakukan kegiatan selama tiga hari, barulah semua peserta kember pulang ke SMA 1 Cepiring pada hari minggu, 4 Januari 2009. Sekitar pukul 8 pagi setelah berbenah dan bersih-bersih kemudian melakukan perjalanan pulang dan sampai di Cepiring sekitar pukul 14.00 wib. dan...sayonaraa......
Senin, 17 November 2008
Laskar Kyai Biru dan Kuda Putih
Tokoh-tokoh tersebut tergabung dalam satu pasukan tentara yang menamakan Laskar Kyai Biru dan Laskar Kuda Putih.
Konon...
Jumat, 24 Oktober 2008
napak tilas BAKENTURE
Untuk itu, BAKENTURE dalam kegiatan Napak Tilas Kyai biru dan Kuda putih, mengajak semuanya saja untuk ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut, yang rencananya akan berlangsung selama 3 hari, 8 - 10 Oktober. Dengan dimulai dari alun2 Sukorejo, napak tilajavascript:void(0)s tersebut akan berakhir di alun2 Ibukota, Kendal.
Sebagai wadah generasi muda, Ardhiwana yang notabene wadah pencinta alam yang berpayung SMA 1 Cepiring, tidak ketinggalan mengirimkan laskarnya.
Mereka adalah: Amri (bethiek), Villa (berit), Mila (lemot), Afi (cowek), Lisa (so’on), dan Isma (isem) – namun, Lisa dan Isma tidak sampai akhir – mereka duduk di kelas XII. Sedangkan dari kelas XI ada Anwar (prenges), Buana (krokod), Sutar (k-su), Riki (kempus), Totok (gembok), Arif (kempes), Ari (ucrit), Muiz (kumis), Pras (gesbi), Ibnu (wakpoh), Rudi (wulu), Indri (preman), Winarsih (ngablak), Rahma (wordot), Tintin (gembes), Umi (cumini), Zaeniyah (keong), Lastri (nyakdut).
Para Ardhies - sebutan anggota Ardhiwana - berangkat dari SMA 1 Cepiring jam 2.30 WIB menuju alun-alun Kab. Kendal yang kemudian berangkat menuju start alun-alun Sukorejo, dan tiba di sana jam 16.30 WIB. Peserta disediakan basecamp di Balai Desa Sukorejo.Di etape ke-2 yaitu dari Desa Ngargosari menuju ds. Sojomerto, perjalanan yang dirasa mudah itu ternyata lebih sulit dari yang diduga. Peserta napak tilas termasuk para Ardhies ditantang melalui medan yang curam. Tidak hanya itu, mereka juga dihadang oleh hujan yang deras. Sehingga sampai di POS ke-2 yaitu Desa Sojomerto sampai pukul 18.30 WIB. Tapi di etape ke-2 ini,
tempat istirahat yang kami tinggali sangat nyaman. Penduduknya juga ramah.Di etape ke-3 adalah etape termudah. Karena diantatra 3 etape yang kami lalui etape inilah yang termudah, terdatar, tercepat, sehingga kami hanya butuh waktu 6 jam untuk sampai di finish etape ke-3 yaitu di alun-alun Kendal.
Dalam upacara penutupan, kami sangat semangat sehingga kami lupa akan capek yang kami alami. Dan hari itu kami juga memperingati Hari Pahlawan.
Merdeka…Merdeka…Merdeka…!!!
Kamis, 21 Agustus 2008
Ardhiwana dalam Napak Tilas Astana Kuntul Nglayang
Oleh keluarga di wewengkon Kendal yang bertrah atau masih ada garis keturunan para tokoh-tokoh tersebut berusaha mensosialisasikan warisan kebudayan katimuran yang diajarkan oleh para leluhur terutama kebudayaan yang bernuansa Jawa, dalam hal ini diadakan Lomba Napak Tilas Kuntul Nglayang.
Sebagai kawula muda yang harus tahu warisan budaya leluhur terutama budaya Jawa, SMA 1 Cepiring melalui PA "Ardhiwana" ambil bagian sebagai peserta dalam lomba napak tilas tersebut. 1 regu putra yang beranggotakan kelas XI yaitu: Rizky Dian Buana (krokod), Sutarmuji (K-su), Mustaqim (Kimbir), Prasongko (Gesbi), Totok Hadi (Gembok), Zaenul Muis (Kumis), Syaiful Anwar (Prenges), Listiawan (Kunyur), Ahm. Masyriki (Kempus), Ari Hidayat (Ucrit), M. Arif Jamaludin (Kempes). Dan 1 regu putri: Indriyani Rahwati (Preman), Rahma (Wordot), Tintin Muzdalifah (Gembes), Winarsih (Ngablak), Yuli (Nyakdut), Apriliana (Umpluk), Umi Nuryati (Cumini), dari kelas XI, Villa Artasari (Berit), Afiatun (Cowek), Lisa Rahmawati (So'on), Sri Wahyumi (Glendem), dari kelas XII.
Kegiatan lomba napak tilas tersebut dilaksanakan oleh Keluarga Keraton Surakarta Hadiningrat Wewengkon Kendal pada Minggu, 24 Agustus 200, dimulai pukul 07.00 wib dibuka dengan upacara pemberangkatan.
Karena ingin memperkenalkan budaya Jawa, maka para peserta dihimbau untuk berperilaku secara orang Jawa dan cara berpakaian pun bernuansa Jawa.
Setelah upacara pembukaan dilanjutkan dengan napak tilas itu sendiri yang terbagi dalam 4 pos materi dan 1 pos terakhir sebagai pos utama.
Pos I, di makam Pangeran Pakuwojo (P. Gondokusumo), dalam bentuk kuntul nglayang berada di posisi ekor. Pos II di makam Wali Musyafak, Drs. Djumadi (Bupati Kendal ke-36), berada di posisi sayap kanan. Pos III di makam Sunan Katong, di posisi dada. Pos IV di makam Kyai Asy'ari, Kyai Puger (pendiri masjid Kaliwungu), Adipati Mandurorejo (BupatiPekalongan th 1922, merupakan putra Sulan Agung Hanyokrokusumo raja Mataram). Pos V adalah pos utama yaitu di makam Panembahan Djoeminah (putra P. Sutowijoyo raja Mataram pertama).
Senin, 30 Juni 2008
Lintas UnGAraN
Kalimat itulah yang pertama terlintas dan terucap dari beberapa anggota Ardhiwana. Pasti Anda bingung dan bengong. Ceritanya begini:
Pada tanggal 28 Juni 2008, kelompok PA (pencinta alam) SMA 1 Cepiring "Ardhiwana" mengadakan kegiatan akhir tahun yaitu "Purna Anggota" atau pelepasan keanggotaan bagi kelas 3 yang segera meninggalkan sma karena lulus sekolah. Kegiatan ini berlangsung tiga hari, 28-30 Juni 2008, dan diikuti oleh 23 anak : Syaiful Anwar (Prenges), Rizki Dian Buana (Krokod), M. Arif Jamaludin (Kempes), Ari Hidayat (Ucrit), Labib Ibnu Sina (WakPoh), Ahmad Masyriki (Kempus), Totok Hadi Saputro (Gembok), Prasongko (Gesbi), Winarsih (Ngablak), dan Zainiyah (Keong), peserta dari kelas x, Saiful Amri (Bethie'k), Dimas Saputro (Samad), Lisa Rahwati (So'on), Ismaul Waviroh (Isem), Amilatul Muamaroh (Lemot), Sri Wahyumi (Glendem), dan Afiyatun (Cowek) dari kelas xi, sedangkan dari kelas xii, dari 7 anak hanya 2 anak yang ikut yaitu Nina Anaqoh (Ninong) dan Ermiana Dewi (Kermi), ditambah 4 anak yang bukan ardhies, mereka hanya ikut2an yaitu : Dimas PP, Mustaghfirin, Nurul Hidayah, dan Mustika sari, yang semuanya dari kelas xi. Dari alumni dan pendamping ada : Budi Bude', Giarto Jambul, Kusnaryanto Mbawut, MasDin Nenek, dan MasDur selaku Pembina Ardhiwana. Dalam proposal yang diajukan kegiatan ini adalah lintas Ungaran. Maksudnya mereka akan melakukan pendakian melalui jalur Promasan dan turun lewat jalur Gedong Songo.
Setelah beristirahat cukup, pukul 02.00 Minggu (dini hari) para ardhies dibangunkan untuk melakukan persiapan pendakian ke Puncak Gunung Ungaran. Setelah Pada pukul 02.45 setelah dipimpin berdoa oleh Mas Dur, pembina Ardhiwana, para ardhies mulai melakukan pe
rjalanan, pendakian pun dimulai dan Giarto Jambul lagi2 ditunjuk sebagai Tim Pioner dalam pendakian dan turun gunung, namun kali ini dibantu oleh Anto' Keder, teman kenalan dari Kaliwungu. Walaupun sudah diketahui bahwa mendaki pasti melelahkan, tetapi ardhies sangat terkejut, lebih-lebih pembinanya, ketika tahu bahwa rute yang dilalui bukan jalur biasanya pendaki pemula melaluinya tetapi jalur lama (jalur timur) dimana medannya jauh lebih menantang. Pada jalur lama ini, tingkat kesulitannya tidak jauh beda dengan gunung2 sekelas Sindoro-Sumbing yang mestinya bukan pemula yang melewatinya. Pada jalur ini mereka harus melalui tidak hanya dengan berjalan, terkadang bahkan sering harus dengan merayap naik layaknya memanjat pohon. Dan juga hewan penghisap darah, pacet atau lintah di sini lebih sering ditemukan ketimbang pada jalur yang satunya. Hewan ini banyak ditemukan menempel pada pohon-pohon yang berada di pinggir jalan yang dilalui para ardhies.Namun begitu, dengan rasa bangga dan ucapan syukur dari mulut para ardhies, mereka mampu menaklukan puncak G. Ungaran pada pukul 05.15 pagi dengan selamat dan tidak ada pasien atau anggota yang sakit. Oleh Mas Dur, pembinanya, semuanya diminta memanfaatkan waktu kurang lebih tiga jam untuk menikmati keindahan alam semesta melalui puncak dan menghayati filosofi yang terkandung di dalamnya.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 08.30, dan dirasa tenaga sudah pulih juga semua sudah sarapan, waktunya untuk turun gunung, melalui jalur Gedong Songo. Di tengah perjalanan jalur ini membagi dua arah yang ke kiri ke arah Pos Mawar, Jimbaran dan yang ke kanan ke arah Gedong Songo. Kali ini Giarto Jambul tidak ditemani oleh Anto' Keder karena dia turun lewat jalur Promasan. Perjalanan pun dimulai. Nah!, ketika di tengah perjalanan ke Gedong Songo ternyata Giarto Jambul tidak lagi sebagai tim pioner karena harus mengurusi "pasien", dan ardhies yang berjalan paling depan diminta untuk mengikuti rombongan lain yang sudah di depan yang juga mempunyai arah ke Gedong Songo. Namun, ternyata ardhies paling depan tidak bisa mengikuti jejak rombongan lain yang dimaksud.
Alhasil, setelah sekian jauh perjalanan dilalui pertigaan yang semestinya para ardhies harus mengambil arah kanan, masih terus saja berjalan dan tidak mengetahui - dan sepintas memang tidak terlihat - bahwa jalur yang dilalui adalah jalur menuju Pos Mawar, Jimbaran, yang arahnya lebih jauh ke arah timur dari Gedong Songo dan akhirnya yaahh... salah jalur alias kesasar. Inipun tidak hanya Ardhiwana yang salah jalur, banyak rombongan lain tidak menginginkan melalui jalur ini. Setelah melakukan diskusi singkat, Ardhiwana tetap pada jalur tersebut walau kesasar, dan tujuan berikutnya adalah Pos Mawar, dan tiba di sana pukul 11.30 wib.Di sini, MasDur beserta Giarto Jambul, MasDin Nenek, Budi Bude', Kusnaryanto Mbawut, Amri
Selasa, 22 April 2008
PTA (Pengambilan Tanda Anggota)
Pada 22-24 Desember 2007, masa kepengurusan periode 2007/2008, melaksanakan kegiatan Pengambilan Tanda Anggota (PTA), di DIENG Kab. Wonosobo.
Kegiatan yang diikuti oleh 21 anak kelas X, sebagai yunior alias yang akan melakukan.... (selengkapnya...)
Rabu, 09 April 2008
DIENG
Dieng adalah sebuah kawasan di daerah dataran tinggi di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Desa Dieng terbagi menjadi Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Kawasan ini terletak sekitar 26 km di sebelah Utara ibukota Kabupaten Wonosobo, dengan ketinggian mencapai 6000 kaki atau 2.093 m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin. Temperatur berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Bahkan, suhu udara terkadang dapat mencapai 0°C di pagi hari, terutama antara Juli—Agustus. Penduduk setempat menyebut suhu ekstrem itu sebagai bun upas yang artinya "embun racun" karena embun ini menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.


