Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 April 2013

Tumenggung Bahurekso dan Rantamsari

Tersebutlah dalam cerita tutur rajyat Pekalongan dan Batang.
Sultan AGung hatinya sangat lega setelah mendengar laporan Raden Bahu, bahwa pembuatan bendungan Kali Sambong telah dapat selesaikan dengan baik. Kemudian raja bertitah "Raden Bahu, tugasmu telah kau selesaikan dengan baik, maka pengabdianmu di Mataram dapat diterima. Namun, masih ada tugas berat yang harus kamu laksanakan yaitu menjemput anak gadis di Desa Kalisalak yang akan saya persunting". Raden Bahu menyanggupi dengan menyembah hormat dan mohon pamit serta mohon restu, dan selanjutnya Raden Bahu berangkat ke Desa Kalisalak.
Alkisah, Raden Bahu telah sampai telah sampai ke Desa Kalisalak, bertemu dengan Rantamsari, gadis desa yang dikehendaki Sultan Agung. Raden Bahu menyampaikan perintah raja, yang isinya Rantamsari harus harus mau dibawa ke Mataram untuk diperistri baginda raja Sultan Agung. Mendengar apa yang dikatakan Raden Bahu tersebut, Rantamsari merasa keberatan, ia tidak mau dibawa ke sana. Demi tugas yang diembannya sebagai prajurit yang harus taat kepada titah raja, maka Raden Bahu akanmenjemput Rantamsari dengan kekerasan. Rantamsari melihat Raden Bahu akan bertindak dengan kekerasan, menangislah ia dengan tersedu-sedu seraya berkata: "Duh Raden, walaupun bagaimana aku tidak mau dipersunting sang baginda raja, lebih bahagia aku menjadi istri Raden Bahu". MEndengar ratapan tangis Rantamsari, hati Raden Bahu menjadi luluh, benih-benih cinta mulai bersemi di hatinya.

Sorot mata gadis desa yang penuh kesucian itu mulai menghiasi hatinya sehingga dua manusia yang berlainan jenis itu saling jatuh cinta. Namun pikiran Raden Bahu masih dibayangi tugas dan kewajiban yang diembannya. Sehingga, Raden Bahu menjadi bingung dihadapkan pada dua masalah yang sangat berat antara tugas dan cinta. WAlaupun Rantamsari gadis desa, namun ia dapat membaca kesulitan yang dialami oelh Raden Bahu. Maka dengan lemah lembut, Rantamsari berkata: "Wahai Raden, janganlah gusar dan bingung, adinda mengetahui Raden pasti tidak sampai hati untuk menyerahkan dinda kepada sang baginda. Masih ada jalan keluar untuk menyelamatkan dinda, Raden". "Jalan apakah yang bisa menyelamatkan kita berdua, adinda? Aku juga tidak rela kehilanganmu" kata Raden Bahu. Kemudian Rantamsari bercerita bahwa di Desa Beluk ada seorang gadis yang sangat cantik bahkan melebihi dirinya. Gadis tersebut namanya Endang Wuranti, dia adalah anak penjual serabi, kiranya dapat dipersembahkan kepada Sri Baginda. Raden Bahu mengangguk, hatinya merasa lega karena tugasnya berhasil dan dapat mempersunting gadis idaman hatinya.

Berangkatlah Raden Bahu ke Desa Kali Beluk. Sesampai di sana Raden Bahu menyampaikan maksud dan tujuannya, bahwa kedatanganya sebagai utusan Raja Mataram untuk menjemput Endang Wuranti yang akan dipermaisurikan Sri Baginda. Hati Endang Wuranti merasa gembira yang tak terlukiskan. Kemudian setelah dirasa cukup, berangkatlah mereka menuju Mataram untuk menghadap Sri Baginda. Sesampai di kerajaan, Raden Bahu menghadap Sri Baginda, dengan hormat ia melapor telah memboyong puteri Kali Salak ke Keraton. Mendengar laporan Raden Bahu, segeralah Sri Baginda memanggil puteri tersebut. Alangkah kecewanya Sri Baginda. Puteri dari Kali Beluk tersebut tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sang raja, ia malah jatuh pingsan tak sadarkan diri. Sri Baginda menduga bahwa puteri tersebut bukan yang dikehendaki. Sri Baginda beranggapan bahwa Raden Bahu mengkhianati janjinya sebagai seorang kesatria. Timbullah dalam hati Sri Baginda ingin membalas dendam dengan cara halus. Karena klesalahan tidak terletak pada Endang Wuranti, maka anak bakul serabi itu diperintahkan untuk kembali ke Kali Beluk, dan diberikan padanya sejumlah uang untuk mengembangkan dagangannya. Hingga sekarang makanan serabi Kalibeluk sangat terkenal.

Pada suatu hari Sri Baginda memanggil Raden Bahu dan memberi titah kepadanya untuk membuka hutan Gambiran. Seperti diketahui bahwa hutan Gambiran merupakan salah satu hutan yang masih lebat, angker, binatang buas banyak berkeliaran, setan-setan gentayangan sebagai penghuni hutan. Namun, sudah menjadi takdir Tuhan bahwa meski hutan Gambiran itu gawat, toh akhirnya tugas membuka hutan tersebut menjadi perkampungan dan persawahan bisas berhasil dengan baik. Walaupun untuk mengerjakan tugas berat itu Raden Bahu harus melakukan "tapa ngalong". Dari cerita inilah di kemudian hari terkenal dengan nama daerah "Pekalongan" hasil kerja keras Raden Bahu atau Bahurekso.

Siapa sebenarnya Rantamsari itu sehingga Sultan Agung berkeinginan untuk menjadikan istri?
Tersebutlah dalam cerita bahwa ketika Nawangwulan (istri Jaka Tarub atau Kidang Telingkas) berhasil kembali lagi ke kahyangan (dunia bidadari) -karena baju dan selendangnya berhasil ditemukan, ia merasa sangat sedih karena kehadirannya ditolak oleh saudara-saudaranya. Alasan mereka, karena Nawangwulan sudah bukan anggota bidadari kahyangan -karena telah melakukan perkawinan dengan manusia. Hanya seorang bidadari yang tetap menaruh simpati padanya yaitu Nawangsari.

Diceritakan dalam buku Penembahan Senopati, akhir dari keputusasaan Nawangwulan, ia langsung menerjunkan diri ke laut selatan, dan berusaha menaklukan para lelembut segoro kidul (laut selatan) yang kemudian terkenal dengan julukan Ratu Laut Kidul.

Akan halnya dengan Nawangsari, ia kemudian juga turun ke bumi menjelma sebagai seorang wanita yang cantik dengan memberi nama dirinya sendiri: Rantamsari. Dan tempat tinggal yang dipilihnya adalah Kalisalak.

Seperti diceritakan di atas, bahwa di kemudian hari Rantamsari diperistri Raden Bahurekso, dan dari perkawinannya lahir seorang laki-laki bernama Sulamjono.

Seperti halnya Nawangwulan, Nawangsari atau Rantamsari juga dilanda kemelut rumah tangga. Hanya permasalahannya yang berbeda. Raden Bahu merasa resah karena hampir setiap saat Rantamsari selalu dikunjungi oleh Ratu Laut Kidul. Nasihat dari suaminya, Raden Bahu, kurang mendapat tempat di hati dan nyaris tidak pernah diperhatikan. Mungkin karena rasa kesal tidak bisa ditahan, maka perpisahan yang terjadi dan mungkin itu merupakan pilihan yang terbaik walaupun Rantamsari sendiri masih memiliki cinta yang dalam pada Raden Bahu.

Dari sinilah muncul sebutan-sebutan yang menjurus pada status seseorang. Rantamsari menjadi janda kembang dengan sebutan: Lanjar. Dari mulut ke mulut tersiar bahwa Rantamsari adalah Dewi Lanjar.

Meskipun sudah punya anak, Rantamsari tetap kelihatan cantik, sehingga menjadi rebutan pembesar kadipaten. Lamaran demi lamaran ditolak oleh Rantamsari karena hatinya tetap menyatu dengan Bahurekso dan Sulamjono. Karena itu ia berusaha meloloskan diri dari Pekalongan. Kematian puteranya, Sulamjono, benar-benar memukul hatinya. Rasa putus asa selalu ada di hadapannya.

Ketika berada di sebuah tempat Rantamsari bertemu dengan seorang pertapa, dan ia disarankan untuk segera menuju Kali Opak, dan seterusnya disarankan segera menerjunkan diri ke dalam sungai.

Alkisah, Rantamsari dijemput oleh Ratu Laut Kidul yang tidak lain adalah saudara sebidadarian, Nawangwulan. Selanjutnya, Rantamsari atau Nawangsari atau Dewi Lanjar dibeir pelajaran oleh Ratu LAut Kidul tentang bagaimana memimpin dunia lelembut. Oleh Ratu Laut Kidul, Nawangsari atau Rantamsari diberi kekuasaan untuk menguasai laut utara atau Laut Jawa, dengan sebsutan Dewi Lanjar. Dan oleh Ratu Laut Kidul disarankan agar Dewi Lanjar tetap membantu para bupati di daerah pesisir, khususnya bupati Pekalongan.

Sementara dari istri yang satunya, Tumenggung Bahurekso memiliki seorang anak lagi yang diberi nama Banteng Bahu. Dalam perang Batavia (1628), kedua putera Bahurekso ambil bagian dan gugur sebagai kusuma bangsa. Dan ketika petinggi Mataram melakukan persidangan dalam rangka perisapan perang besar itu, Banteng Bahu mendapat tugas menajga daerah di bagian barat dari Paseban Kemangi, tepatnya di pantai dan hilir sungai Kutho. Tugas pokoknya mengawasi dari jauh apabila ada kapal-kapal lawan yang memasuki wilayah paseban. Sehingga dibuatlah sebuah panggung yang agak tinggi, sehingga bisa untuk "menerawang" atau melihat dari jauh. Begitulah tempat itu disebut dengan nama Tawang atau Nerawang.

Dongeng mengenai Tumenggung Bahurekso dan Dewi Lanjar atau Rantamsari hingga kini memang masih dianggap keramat oleh sementara penduduk di Pekalongan, dan cukup hati-hati duntuk dipentaskan dalam cerita panggung atau ketoprak/ludruk ataupun sandiwara.

Pernah suatu ketika ada lakon sendratari Tumenggung Bahurekso dengan mengambil lokasi di Pendopo Kabupaten Pekalongan. Penggelar pertunjukan itu juga termasuk orang penting, Bupati Haryono (alm). Penata tarinya juga tokoh budayawan nasional, Bagong Kusudiharjo. Mungkin karena lakon ceritanya kurang lengkap seingga ada ketidakcocokan dengan cerita yang sebenanya, tiba-tiba langit yang cerah sejak sore dan udara yang sejuk mendadak redup dan gelap hingga kemudian turun hujan lebat disertai petir menggelegar-gelegar. Tak lama kemudian, banir pun menggenangi alun-alun Pekalongan yang tingginya hampir setengah meter. Anehnya, banjir itu hanya di sekitar alun-alun dan pendopo kabupaten saja.

Hal yang sama juga pernah dialami oleh grup kesenian ketoprak "Siswa Budoyo". Mungkin karena pementasan lakonnya kurang sesuai dengan lakon cerita yang sebenarnya, maka tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, juga disertai petir. Bahkan hampir sepertiga pemain panggungnya jatuh sakit.

Setelah dilakukan upacara ritual di makam Bahurekso yang ada di Legok Kalong, ternyata semua yang pernah terjadi itu tidak lagi mengganggu pementasan berikutnya.

Rasanya memang antara percaya dan tidak. Di samping itu, memang tidak ada dalil pasti yang bisa menyebabkan peristiwa itu terjadi, tetapi kenyataan yang menjawabnya.
Ini berarti bahwa segala sesuatu yang masih berhubungan dengan "hamba Allah" tentunya diperlukan adab dan sopan santun termasuk terhadap para leluhur yang telah meninggal dunia. Kalau saja Tumenggung Bahurekso masih hidup, dia mungkin akan berkata: "Mengapa masuk daerah orang lain tidak mau kulawanuwun (permisi-Jawa) kepada orang yang bersusah payah membangun, dan mengapa melakonkan diri saya tidak sesuai dengan cerita sebenarnya..."

Begitulah cerita rakyat yang terkadang sulit untuk dicari pembuktiannya.

Sumber: diambil dari buku Babad Tanah Kendal, karya Ahmad Hamam Rochani (2003)

Sabtu, 13 Februari 2010

Paseban Kemangi: prosesi persiapan perang

Ketika Sultan Agung memutuskan perang terhadap Belanda di Batavia, semua Adipati, Tumenggung dan para pembesar kerajaan dipanggil pada suatu pertemuan agung di Kerajaan Mataram yang dipimpin langsung oleh Sultan. Setelah melalui perapatan serta saran-saran dari para adipati ataupun para pembesar kerajaan, maka keputusan akhirnya Mataram menyatakan perang terhadap Belanda di Batavia. Para pimpinan perang pun diputuskan, dan diputuskan juga panglima perangnya, yaitu Tumenggung Bahurekso, Adipati Kendal dan Gubernur Pesisir Laut Jawa.

Bisa dibayangkan bahwa Kendal pada akhirnya menjadi pusat perhatian para sentono kerajaan. Para bupati, tumenggung maupun pembesar kerajaan lainnya perahtiannya tertuju pada figur Tumenggung Bahurekso dan Kadipaten Kendal sebagai pusat pertahanan dan berkembang menjadi pusat persiapan angkatan perang menuju ke Batavia. Kendal memang memiliki catatan sejarah yang agung. Betapa tidak, Kendal menjadi tempat berkumpulnya para pembesar-pembesar kerajaan. Banyak adipati atau tumenggung yang harus meninggalkan daerahnya dan berkumpul di Kendal.

Menurut beberapa catatan, para pembesar-pembesar kerajaan yang hadair di Kendal dalam rangka persiapan perang melawan Belanda di Batavia, antara lain:
1. Tumenggung Bahurekso
2. Pangeran Purboyo
3. Pangeran Djoeminah
4. Tumenggung Mandurorejo
5. Tumenggung Upashanta
6. Tumenggung Kertiwongso, asal Jepara
7. Tumenggung Wongso Kerto
8. Tumenggung Rajekwesi
9. Raden Prawiro/Pangeran Sambong
10. Pangeran Kadilangu
11. Pangeran Sojomerto
12. Raden Sulamjono, putera Tumenggung Bahurekso
13. Raden Banteng Bahu, putera Tumenggung Bahurekso
14. Kyai Akrobudin
15. Kyai Mojo dan Kyai Sandi, pengawal Pangeran Sambong
16. Tumenggung Begananda
17. Raden Haryo Sungkono
18. Raden Muthohar
19. Tumenggung Pasir Puger
20. Pangeran Karang Anom
21. Pangeran Tanjung Anom
22. Tumenggung Panjirejo
23. Pangeran Puger
24. Tumenggun Singoranu, Patih MAtaram, pengganti Ki Juru Mertani
25. Aria Wiro Notopodo atau Suropodo
26. Tumenggung Wiroguno
27. Raden Bagus Kumojoyo
Dan tentunys masih banyak lagi tokoh-tokoh kerajaan yang hadir dalam pertemuan persiapan perang ke Batavia.

Bahurekso memutuskan bahwa pertemuan persiapan perang tidak dilakukan di pendopo kabupaten tetapi di sebuah tempat yang dekat dengan pantai. Oleh para peserta pertemuan akhirnya disepakati bahwa tempat pertemuannya harus dirahasiakan. Tempat yang dipilih ternyata di tengah hutan/persawahan. Tepatnya di bawah pohon yang rindang. Pohon itu sekarang ini dikenal dikenal dengan nama Pohon Kemangi.

Pohon itu terletakdi tengah-tengah persawahan/pemakan (sekarang), masuk wilayah Desa Jungsemi Kecamatan Kangkung. Dan tempat itu pada akhirnya dijadikan sebuah pemakaman yang masih terkenal keramat. Namun ada keterangan lagi bahwa pohon kemangi itu adalah sebuah pohon yang lurus ke atas laksana sebuah payung. Dari sekian puluh peserta paseban di Kemangi, semuanya terlindungi. Bahkan ada yang menerangkan lagi bahwa peserta paseban tidak akan bisa dilihat oleh mata telanjang karena memang sudah dipayungi oleh pohon kemangi serta oyot mimang yang ditanam oleh Tumenggung Rajekwesi atau Ki Gede Kemangi.

Penanggung jawab pertemuan diserahkan pada Tumenggung Rajekwesi atau Ki Ageng Kemangi. Tokoh ini yang mengatur prosesi pertemuan dari awal sampai akhir dan bahkan termasuk keamanan para tokoh-tokoh kerajaan dari intaian telik sandi atau intel/mata-mata pihak lawan. Oleh karenanya daerah-daerah yang dijadikan pintu masuk para petinggi kerajaan itu dijaga dengan ketatnya. Tidak hanya itu, penjagaan dengwan cara batin dan spiritual pun dilakukan dengan baik.

Siapa sebenarnya Tumenggung Rajekwesi itu? Memang tidak banyak yang tahu. Belum ada catatan sejarah yang menerangkan tokoh ini secara jelas. Tokoh ini mempunyai peranan sangat penting pada pertemuan itu. Demi keselamatan para pemimpin kerajaan dan demi suksesnya pertemuan persiapan perang, maka tempat di sekitar pertemuan dipagari dengan oyot mimang, yang kokoh bagai pagar besi. Bahkan lebih kokoh dari pagar besi. Oyot mimang seperti dalam cerita tutur merupakan kinayah bagian dari ayat suci Al-Qur'an. Oyot berasal dari kata ayat, Mimang diambil dari petikan-petikan huruf/kata dari ayat kursi, yaitu Mim-ma. Untuk lebih jelasnya perhatikan ayat al-qur'an yang lebih dikenal dengan nama ayat kursi:
"...Allahu laa ilaaha illa huwal khaiyul Qoyyum laa ta'khudzuhu sinatun wala naum. Lahuu maa fissamawaati wamaa fil ardli. Man dzal ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi'idznihi ya'lamu ma baina aidihim wa maa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyai'in min 'ilmihi illaa bi maa syaa'. Wasi'at Kursiyyuhussamaawaati wal ardli walaa ya-uduhu khifdhunma wahuwal 'aliyyul 'adhiim...".
Artinya: "...Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia,Yang Mahahidup lagi Mahategak. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Baginya segala yang ada di langit dan segaa yang ada di bumi. Siapakah yang akan dapat membeikan pertolongan di sisi-Nya, tanpa seizin-Nya. Dia Maha Mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka, dan apa-apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak akan dapat menjangkau ilmu-Nya sedikitpun, kecuali pengetahuan yang telah dikehendaki oleh-Nya. Singgasana-Nya sangat luas, seluas semua langit dan bumi. Dia Mahaluhur lagi Mahaagung..."(al-baqoroh: 225).

Selasa, 01 Desember 2009

KABUPATEN KENDAL DI KALIWUNGU

Kaliwungu, disebut juga Lepen Wungu (sejarah Bagelen), Lepen Tangi (Babad Sultan Agung), Caliwongo (Francois Valentiju), daerah yang dipilih oleh Bahurekso sebagai pusat pemerintahan sebuah Kadipaten. Pada saat itu Kaliwungu adalah daerah yang telah dibangun oleh Sunan Katong yang kemudian dikembangkan oleh ulama Mataram Panembahan Djoeminah. Upaya pengembangan diteruskan oleh ulama yang punya garis keturunan dengan Sunan Giri, yaitu Kyai haji Asy'ari atau Kyai Guru, yang datang ke Kaliwungu pada beberapa tahun kemudian. Kaliwungu memang daerah berpotensi, selain itu dari faktor geografis memenuhi syarat sebagai daerah pertahanan.
Bandar (pelabuhan) Jepara mengalami perkembangan yang pesat bila dibanding dengan Bandar Bintara, Deamk. Selain itu, Bandar Asam Arang, yang strategis menjadikan Kadipaten Kendal di Kaliwungu semakin berkembang.
Faktor strategis lainnya adalah;
Pertama, merupakan jalan lurus menuju Mataram yang berdampingan dengan kadipaten Semarang. Kedua, memiliki pantai landai yang memungkinkan pengembangan pelabuhan armada. Ketiga, semenmanjung dengan Jepara sehingga mudah mengamati perkembangannya. Keempat, dekat dengan pesisir sebelah barat: Batang, Pekalongan, Tegal hingga Cirebon. Kelima, kondisi masyarakat pondok pesantren yang tenang sangat memungkinkan adanya koordinasi dengan para ulama, dan tidak tertutup kemungkinan Adipati merangkap jabatan lain.
Ancaman yang menjadi pertimbangan Sultan Mataram adalah VOC yang terus mengembangkan sayapnya memonopoli dagang. Banten dan Batavia telah berhasil dikuasai. Oleh karenanya pembangunan armada laut yang kuat sangat dibutuhkan, dan dalam hal ini Sultan Agung mempercayakan pada Adipati Kendal, Tumenggung Bahurekso. Pembangunan armada laut pun dimulai, dengan beberapa tempat yang dijadikan pusat pelatihan armada (prajurit).
Magangan, sebuah desa yang masuk masuk Kecamatan Pegandon (sekarang Kecamatan Ampel), dijadikan penampungan dan pendaftaran calon prajurit. Magangan berasal dari kata atau Magang atau pencalonan. Sedangkan tempat latihannya dipusatkan di desa Plantaran, sekarang masuk Kecamatan Kaliwungu. Plantaran berasal dari kata tataran atau yang berarti dadaran, pendadaranpusat latihan calon prajurit. Para pimpinan prajurit (armada) ditempaatkan di daerah dekat pelabuhan, namanya Sabetan yang artinya jago atau jawara. Pelabuhan armadanya di daerah Ngeboom yang artinya pelabuhan atau pangkalan laut. Keduanya sekarang menjadi desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu. Sedangkan transportasi yang menghubungkan pusat pemerintahan dengan markas besar armada angkatan laut melalui Kali Aji atau Kali Bendo.
Awalnya, Bahurekso hanya diberi kekuasaan darat seluas wilayah Kadipaten Kendal. Namun perkembangannya diangkat sebagai Panglima Angkatan Laut dan Gubernur Pesisir Jawa Utara. Memperhatikan tugas-tugas kedua dan ketiga itu, memberi gambaran bahwa Mataram menempatkan posisi Adipati/Bupati Kendal sangat strategis yang berskala nasional pada jamannya.
Setiap diplomat yang akan menghadap raja, terlebih dahulu berkewajiban untuk melapor dan meminta ijin pada Bahurekso. Pada bulan Juni 1615, ketika Andries Soury berkeinginan menghadap raja, maka ia harus terlebih dahulu menemui Adipati Kendal yang jug aGubernur Jawa Utara. Satu bukti lagi yang erat hubungannya dengan kepercayaan Sultan Agungyang diebrikan kepada Tumenggung Bahurekso, ketika utusan dagang kedua VOC, yaitu van Endhovenn(Juni 1618) ingin menghadap Sultan Mataram dengan tujuan ingin memperkuat dan memperluas lojinya. Jawaban Sultan diberikan kepada utusan VOC itu melalui Tumenggung Bahurekso.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan VOC, kebijaksanaan awal berada di tangan Bahurekso. Perilaku kasar yang ditunjukkan ole Van Endhoven dan Cornelis Maseuck terhadap para pedagang Jepara, pada akhirnya menjadi perhaatian Sultan. Mereka memaksa agar para pedagang Jepara menjual dagangannya pada VOC, dan bila tidak dituruti, para pedagang VOC melakukan penjarahan dan penganiayaan. Perilauk ini harus dipertanggungjawabkan. Karena tidak ada tanggapan dari pihak VOC, maka 18 Agustus 1618, Kantor Dagang VOC yang ada di Jepara diserbu habis. Ada yang meninggal dan ada yang ditawan oleh pasukan Bahurekso.
Inilah awal situasi dan kondisi yang memanas. JP. Coen, Gubernur Jenderal Dagang VOC di Jakarta merasa tersinggung. Dengan pura-pura berbuat baik pada pedagang Jepara dan pemerintah Mataram, JP. Coen menemui penguas dagang Mataram di Jepara yang berpangkat Hulubalang itu, JP. Coen ingin membeli beras dan keperluan lainnya dari masyarakat. Setelah itu seratus enam puluh prajurit VOC menyerang rumah-rumah rakyat, dan menewaskan tiga puluh orang. Jung-jung yang ada di pelabuhan Jepara semua dibakar habis.
Peringatan dari VOC itu mendorong Bahurekso memperkuat pertahanan Jepara. Prediksi akan adanya serangan ulang dari pihak VOC, ternyata benar. Sebanyak 400 prajurit Belanda (1619) menyerang Jepara. Namun dapat dipukul mundur oleh pasukan Bahurekso, dan mereka harus kembali ke laut. Persaingan dagang di pantai utara antara Mataram dengan Belanda sudah mulai memanas dan saling menjepit.
Kerajaan Sukadana, Kalimantan Selatan berhasil lebih dahulu dikuasai oleh Mataram.. Belanda berusaha melakukan ekspansi dagang lewat laut dengan daerah yang dituju Gresik dan Madura. Malang bagi Kompeni, karena tahun 1624 Kamar Dagang VOC yang ada di Gresik hancur oleh pasukan Mataram. Persaingan semakin panas, dan Sultan Agung sendiri merasa bahwa cepat atau lambat Kompeni akan menguasai Pulau Jawa.



diambil dari buku Babad Tanah Kendal karya Ahmad Hamam Rochani;

Senin, 30 November 2009

Kyai Ngabehi Bahurekso: menurut sastra lisan

Ki Ageng Cempaluk yang juga punya nama Ki Ageng Joyo Singo atau Ki Ageng Ngerang, adalah seorang prajurit pilih tanding Kerajaan Pajang dan Mataram. Namun, ada keterangan lagi bahwa Ki Ageng Cempaluk adalah ayah dari Joyosingo.
Nama Ki Ageng Ngerang yang menjadi julukannya bisa dipahami bila Ki Ageng Cempaluk masih ada hubungannya dengan Ki Ageng Bondan Kejawan atau Lembu Peteng, putera Prabu Brawijaya dari Majapahit, dari keturunan ibu.
Sebagaimana disebut dalam cerita tutur ataupun sejarh rakyat, seorang tokoh biasanya dipanggil dengan memakai panggilan nama leluhurnya bila yang bersangkutan memiliki sifat-sifat yang sama, yang disebut "nama nunggak semi". Nama Ki Ageng Ngerang tokoh tua seangkatan Ki Getas Pendowo, ayah Ki Ageng Selo yang menurunkan Ki Ageng Ngenis atau Henis dan berputera Ki Ageng Pemanahan, ayahanda Sultan Mataram pertama, Senopati Sutowijoyo.
Seperti disebut dalam buku Babad Tanah Jawi, diterangkan sebagai berikut:
"Prabu Brawijaya mempunyai istri (selir) bernma puteri wandan, berputera laki-laki bernama Raden Bondan Kejawan alias Bondan Surati alias Lembu Peteng yang kawin dengan Puteri Nawangsih puteri Ki Ageng Tarub, berputera dua orang, Ki Getas Pendowo yang berputera Ki Ageng Selo. Anak Ki Bondan Kejawan yang satunya, seorang puteri yang dikawinkan dengan Ki Ageng Ngerang. Jadi hubungan antara Ki Ageng Getas Pendowo dengan Ki Ageng Ngerang adalah saudara ipar.
Selanjutnya dengan disebutnya nama Ki Ageng Ngerang, mengingatkan pada tiga tokoh besar bersaudara seperguruan, yaitu Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Tingkir dan ki Ageng Ngerang. Oleh cerita tutur, tokoh Ki Ageng Ngerang ini tidak tertutup kemungkinan merupakan leluhur Ki Ageng Cempaluk, ayah Joko bahu, yang kemudian hari bernama Tumengung Bahurekso.
Sedangkan dalam buku Babad Tanah Jawi diterangkan bahwa: Ki Ageng Selo mempunyai anak enam putri dan satu orang putra, namanya Ki Ageng Ngenis, berputera Ki Ageng Pemanahan, berputera Raden Pangeran Bagus, yang tidak lain Sutowijoyo, Panembahan Senopati.
Bila Catatan Hermannus Johannes de Graaf yang mereferensi dari buku Babad Tanah Jawi itu benar, maka Jaka Bahu atau Tumenggung Bahurekso adalah masih ad hubungan keluarga menyamping trah Mataram. Dengan kata lain Bahurekso memang bangsawan Mataram, hanya saja ia berasal dari pihak ibu.
Sedangkan menurut Amien Budiman, Jaka Bahu sebutan lainnya adalah Ki Bahu, adalah sahabat dekat atau orang yang dipercaya oleh Pangeran Benowo. Jaka Bahu lah yang mendampingi Pangeran Benowo mulai dari Pajang, kemudian pindah kek Jipang dan selanjutnya mengembara hingga ke Kendal dan Parakan. Oleh Sunan atau Pangeran Benowo, Ki Bahi diserahkan pada Panembahan Senopati di Mataram sebagai ganti atau wakil dan atas nama Pangeran Benowo. Bila Panembahan Senopati ada keperluan dengannya, maka Ki Bahu lah yang menjadi wakilnya, karena memang nenek moyang Ki Bahu masih ada hubungannya dengan nenek moyang Mataram. Dengan demikian kedekatan Ki Bahu dengan Pangeran Benowo itu lebih berdasar pada kesinambungan hubungan erat nenek moyangnya, yaitu antara Ki Ageng Ngerang dengan Ki Ageng Pengging.
Baik Ki Ageng Cempaluk ataupun Jaka Bahu memiliki hubungan sangat dekat dengan Panembahan Senopati Ing Alogo Sayidin Panotogomo Sultan Mataram Sutowijoyo maupun Mahapatih Mataram, Ki Mondoroko, nama kebesaran Ki Juru Martani. Karena drama baktinya kepada kerajaan yang besar dan usianya yang cukup tua, Ki Ageng cempaluk diberikan tanah perdekan (otonomi) di wilayah Kesesi, sekarang masuk Kabupaten Pekalongan. Hidup bersama dua anaknya, Joko Bahu dan seorang lagi sebagai anak angkatnya Anjarwati, dirasakan sebagai anugrah dari Tuhan yang Mahakuasa. Di padepokan itulah ia menghabiskan masa tuanya dengan penuh syukur pada Tuhan. Namun sebagai orang yang telah diberi penghargaan, Ki Ageng cempaluk tetap mencurahkan pikirannya dan sisa-sisa tenaganya untuk Mataram.
Sebagai seorang prajurit yang hidup di dua masa, yaitu masa kerajaan Pajang dan Mataram, dan dikenal sebagai prajurit yang mumpuni dalam bidang kanuragan dan ketataprajaan. Sehingga ia memiliki pewaris yang bisa melanjutkan pengabdiannya pada kerajaan.
Dituturkan, bahwa penguasa Kadipaten Kleyangangan (Sekarang Kecamatan Subah, Batang), Adipati - Pengalasan/Pemajegan - Tumenggung Dipokusumo, berencana meluaskan wilayah kadipatennya ke arah timur, dengan membuka alas roban, untuk areal pertanian dan pemukiman. Adipati Dipokusumo, sadar bahwa membuka alas (hutan) bukan pekerjaan yang mudah dan disadari termasuk pekerjaan yang keras. Sebuah tugas yang sangat keras dan penuh resiko, maka ia meminta bantuan Ki Ageng Cempaluk yang terkenal sakti. Karena usia yang mendekati udzur, maka tugas itu diserahkan pada puteranyan, Jaka Bahu.
Dengan tetap didampingi oleh Adipati Tumenggung Dipokusumo, tugas membuat persawahan dan pemukiman dengan membuka alas (Babat Wono Roban) dilaksanakan dengan baik oleh Jaka Bahu. Atas keberhasilannya itu, pada akhirnya jaka Bahu menjadi kepercayaa Adipati Dipokusumo, yang tentu saja keberhasilan itu dilaporkan pada Sultan Agung Hanyokrokusumo. (dalam buku Bahurekso Tapa, ada nama Jaka Sentanu - yang kemungkinannya satu nama dengan Ki Dipokusumo).
Berhasil membuka hutan Roban, Sultan Agung menginginkan ada penambahan areal persawahan dan pemukiman, dengan cara membuka hutan hutan (alas) Gambiran, sebuah hutan di sebelah barat Kleyangan, yang lebih gawat daripada Roban. Dengan menelusuri sungai Sambong yang lebar dan memanjang dari selatan ke utara, dan selanjutnya menjadi prioritas dan sasaran pertama yang harus dikerjakan.
Dimulai dengan membuat bendungan di sungai itu. Kawasan hutan yang telah dikuasai oleh pendekar keals tinggi, Drubikso, merasa kehidupannya diganggu. Tokoh sakti itu melakukan perlawanan pada Jaka Bahu. Oleh yang punya cerita disebutkan bahwa antara kedua tokoh itu sama-sama memiliki daya tempur yang luar biasa. Drubikso yang punya aji guntur geni berhasil dikalahkan. Drubikso dan Jaka Bahu saling memukul dengan galah atau watang (embat-embatan watang, Jawa). Tempat pertarungan kedua tokoh itu pada akhirnya disebut (berasal dari kata Batangembat-embatan watang).
Hutan gambiran merupakan keberhasilan Jaka Bahu kali kedua, sekarang ini tepatnya di daerah Sambong, Batang. Sedangkan pembahasan taktik dan strategi untuk mengalahkan Drubikso, sekarang bernama Dracik yang berasal dari kata diracik. Dan keberhasilannya membuka hutan Gambiran ini merupakan kado persembahan terhadap tahun pertama pemerintahan Sultan Agung (1613).
Pada akhirnya Sultan Agung mengutus putera Mataram, Ki Mandurorejo, untuk menata kembali daerah Kleyangan sepeninggal Ki Dipokusumo. Dari sinilah awal perkenalan Jaka Bahu dengan Ki Mandurorejo putera Ki Manduronegoro, yang berarti cucu Ki Patih Mondoroko, yang berarti juga masih saudara dekat dengan Sultan Agung, bahkan disebutnya sebagai mertua Sultan Agung.
Seperti disebut dalam sejarah Kabupaten Pekalongan/Batang, Tumenggung Mandurorejo diangkat menjadi Adipati pad tahun 1922. Bila diruntut dengan cerita-cerita di atas, maka sembilan tahun kemudian setelah hutan Gambiran bahkan di atas angka sepuluh tahun setelah alas Roban dibuka menjadi perkampungan oleh Bahurekso, Tumenggung Mandurorejo menduduki Pekalongan/batang sebagai adipati.
Atas jasa-jasanya itu, pada tahun yang tidak berselang lama setelah Sultan Agung dinobatkan sebagai sultan, Jaka Bahu diberi penghargaan atas jasa kerja kerasnya, menjadi Adipati (penguasa) Kendal, dengan pangkat Tumenggung (1614). Tahun penobatan ini memang menjadi perdebatan bahkan belum diyakini. Namun, catatan De Graaf, sejarawan Belanda yang khusus menulis javanologi menyebut bahwa pada tahun 1915, Kendal sudah ada seorang gubernur bernama Bahurekso.
Dengan diangkatnya Tumenggung Bahurekso sebagai penguasa Kadipaten Kendal, maka secara hirarkhi, Kadipaten Kendal di bawah langsung kerajaan Mataram. Sebuah karya yang dihias di daerah sendiri (Kabupaten Batang sekarang ini) sedangkan sebagai penghargaannya menjadi penguasa daerah lain. Sedangkan daerah yang dibangunnya (sebelum menjadi adipati) pada akhirnya bernama Kadipaten Pekalongan (termasuk Batang), oleh Sultan Mataram diberikan kepada Mandurorejo.
Inin artinya bahwa Ki Mandurorejo datang ke daerah itu, tatanan pemerintahan sudah tertata rapi, dan bangunan-bangunan sebagai cikal bakal pemerintahan telah ada. Dengan berdasarkan kepentingan pertahanan kerajaan Mataram, maka oleh Bahurekso dan atas persetujuan Sultan Mataram, menjadikan wilayah Kaliwungu sebagai alternatif yang terbaik sebagai pusat pemerintahan. Sebutan berikutnya Kadipaten kendal di Kaliwungu. Begitu seterusnya hingga 1811, pemerintahan dipindahkan ke kota Kendal seperti sekarang ini.
dalam sejarah Batang sebagai ditulis oleh R. Sunaryo Basuki, ataupun catatan-catatan Amien Budiman, bahurekso memang pernah memerintah Kabupaten Pekalongan sebagai pejabat kerajaan. Selanjutnya oleh R. Sunaryo Basuki juga dituturkan, ketika itu ia menunjuk Raden Tjilik atau Raden Prawiro, seorang ulama masih keturunan ulama Sedayu, Lamongan Jawa Timur, yaitu Sunan Nur atau Sunan Sendang sebagai Ki Ageng di Batang/Ki Ageng Gede Batang. Hanya saja keberadaannya di Pekalongan/Batang sebagai pejabat kerajaan, maka nama Bahureksotidak diabadikan bahkan tercatat sebagai Bupati Pekalongan atau di Batang.
Bila diurut kapan peristiwa itu terjadi, rasanya memang tidak sulit yaiut sebelum tahun 1614. Sebab, Mandurorejo diaingkat sebagi Bupati batang pad hari Senin pon, 8 September 1614 (Jumat Kliwon(?). Hanya saja catatan di Pekalongan menyebutkan bahwa walaupun Mandurorejo menjadi bupati/penguasa di Batang tahun 1614, tetapi di Pekalongan tercatat tahun 1622/1623 Pengeran Mandurorejo dan adiknya (Tumenggung Upasanta) menjadi adipati/penguasa Pekalongan. Kedua daerah itu merupakan hasil kerja keras Bahurekso.
Pekalongan berasal dari kata "kalong". Cerita tuturnya, di tempat itulah Bahurekso melakukan "topo ngalong", menggantung di pohon dan makannya hanya buah-buahan, seperti kalong, begitu masyarakat menyebut. Usaha bertapa Bahurekso ini sehubungan dengan pekerjaan membuat perkampungan dengan membuka hutan Gambiran.
Tidak berlebihan jika Bahurekso pada akhirnya berhasil membangun tiga daerah pemerintahan sekaligus.



diambil dari buku Babad Tanah Kendal karya Ahmad Hamam Rochani;

KENDAL MENJADI KABUPATEN

Sang nujum itu benar-benar titis pikir. Puteri Bondan Kejawan beriringan kasih sayang dengan KiAgeng Ngerang. Tuturnya dari sini lahir sang Bahu, sorang cicit yang berdampingan dengan Pangeran Benowo sang Mahkota Pajang. Ikatannya ditali dengan batin seperguruan sang leluhur. Setia tak gampang merekah. Tanah Kukulan mengantar sang Bahurekso berdekat diri dengan orang agung dari Mataram, dimulai dari anugerah nama, Kyai Ngabehi Bahurekso, dan selanjutnya Raden Tumenggung Bahurekso, sang Adipati Kendal. Alas Roban dan Alas Gambiran, Batang dan Pekalongan karya utama sang Bahu, yang berdampingan dengan pengejawantahan Nawangsari sebidadarian dengan Nawangwulan. Sang kekasih Bahurekso terpatri di hati dengan sebutan Dewi Lanjar. Magangan, Plantaran, Kali Aji, Sabetan dan Ngeboom merupakan saksi bisu dan monumen yang terlupakan dari sejarah sebuah kabupaten di Kaliwungu. Pusat budaya. Kota kecil itu menjadi kota besar, dan dari Klaiwungu berhasil menembus Batavia pada Kaladuta. Nama Kendal tidak lagi menasional tetapi telah melangit di tingkat internasional. Sang Bahurekso, adipati, gubernur pesisir Jawa dan dan panglima perang.

Senin, 10 Agustus 2009

Raja-raja Jawa

Dalam buku Sang Prabu Sri Adi Djojobojo, tulisan Bambang Yudoyono diterangkan bahwa sampai kini sebagian masyarakat Indonesia (baca:masyarakat Jawa) percaya bahwa Raja Jayabaya dari Kediri itu merupakan keturunan dewa. Dijelaskan pula bahwa Raja Jayabaya sebagai titissan Wisnu yang bertugas menata hidup manusia. Maka untuk mengetahui secara jelas raja-raja yang memerintah Tanah Jawa dapat diurutkan sebagai berikut:

I. Kerajaan Kediri/Mamenang
Sang Prabu Sri Aji Jayabaya kawin dengan Dewi Sara, berputera empat orang terdiri dari tiga orang wanita dan seorang laki-laki bernama Prabu Jayaamijaya yang kemudian menjadi raja di Kediri Mamenang menggantikan ayahnya.
1. Prabu Jayamijaya kawin dengan Dewi Satami berputera dua orang seorang diantaranya bernama Prabu Jayaamisena, menggantikan raja.
2. Prabu Jayaamisena kawin dengan Dewi Citraswara berputera dua orang, yang pertama bernama Prabu Kusumacitra menjadi raja dan memindahkan kerajaan ke Pengging.
II. Kerajaan Pengging
3. Prabu Kusumacitra beristri dua, berputera lilma orang. Dengan Dewi Soma lahir Prabu Citrasoma yang menggantikan ayahnya menjadi raja di Pengging.
4. Prabu Citrasoma beristri dua orang, berputera empat orang. Dengan Dewi Sriati berputera tiga orang, dan anak yang nomor dua bernama Prabu Pancadriya, menjadi raja di Pengging.
5. Prabu Pancadriya bersitri dua orang berputerakan empat orang. Dengan Dewi Gandrawati antara lain berputera Prabu Anglingdriya yang kemudian menjadi raja Pengging.
6. Prabu Anglingdriya beristri dua orang dan berputera tiga orang. Dengan Dewi Sinta berputera Prabu Sulawelacala, yang menjadi raja dan memindahkan ke Medang Kemulan, dan Prabu Pandayanata menggantikannya sebagai raja.

III. Kerajaan Medang Kemulan
7. Prabu Suwelacala bersitri lima orang dan berputera lima orang. Dengan Dewi Darmastuti berputera Prabu Sri Mapunggung (nomor 5) menjadi raja di Purwacarita.

IV. Kerajaan Purwacarita
8. Prabu Sri Mapunggung beristri lima orang dan berputera tujuh orang. Dengan Dewi sulastri lahir Jaya Lengkara (nomor 7), menjadi raja menggantikan ayahnya.
9. Prabu Jaya Lengkara beristri dua orang dan berputera lima orang. Dari Dewi Candralata lahir Resi Gatayu (nomor 5) yang kemudia menjadi raja dan pindah ke Jenggala.

V. Kerajaan Jenggala
10. Resi Gatayu beristri lima orang, dan berputera enam orang. Dengan Dewi Citraswara berputera: a. Dewi Kalisuci, yang kemudian menjadi penguasa makhluk halus. b. Prabu Lembuamiluhur menjadi raja di Jenggala.
11. Prabu Lembuamiluhur beristri enam orang, selir 40 orang berputera 100 orang. Dengan Dewi Tejaswara lahir Raden Panji Asmarabangun (nomor 97) yang ketika menjadi raja Jenggala bergelar Prabu Inu Kertapati.
12. Prabu Inu Kertapati beristri delapan. Dengan Dewi Candrakirana berputera seorang bernama Raden Labang yang ketika menjadi raja Jenggala bergelar Prabu Suryamiluhur, setelah itu memindahkan kerajaan ke Jawa Barat (Pajajaran) dan bergelar Prabu Panji Maesatandreman.

VI. Kerajaan Pajajaran
13. Prabu Panji Maesatandreman beristri empat orang berputera lima. Dengan Dewi Candrasari lahir Jaka Suparta yang kemudian menjadi raja Pajajaran bergelar Prabu Banjarsari. Pada saat itu pula kerajaannya dipindahkan ke Segaluh.
14. Prabu Banjarsari beristri 26 orang, dan berputera 78 orang. Dengan Kanjeng Ratu Agung berputera Prabu Mundingsari (nomor 15) menjadi raja Pajajaran/Segaluh.
15. Prabu Mundingsari beristri tiga, dan berputera enam orang. Dengan Dewi Warsiki lahir Prabu Mundingwangi yang kemudian menjadi raja Pajajaran.
16. Prabu Mundingwangi beristri tiga orang, berputera lima. Dengan Endang Setaman lahir Prabu Sunda Anyakrawati, disebut juga Prabu Pamekas menjadi raja Pajajaran.
17. Prabu Sunda Anyakrawati berputera 12 orang. Dengan Dewi Ambarsari berputera Raden Susuruh, yang kemudian menjadi raja Majapahit bergelar Pabu Bratana. Dan dengan seorang selirnya lahir Prabu Siyung Wanara yang menjadi raja Pajajaran dengan gelar Prabu Sri Mahasekti.

VII. Kerajaan Majapahit
18. Prabu Bratana beristri dua orang, berputera lima orang. Dengan Dewi Madani lahir Prabu Brakumara menjadi raja Majapahit.
19. Prabu Brakumara kawin dengan Dewi Dinding berputera Arya Adiwijaya menjadi raja Majapahit ke-3 bergelar Prabu Brawijaya I.
20. Prabu Brawijaya I beristri dua orang, berputera empat orang. Dari istri Raden Ayu Pengging lahir Raden Hayam Wuruk menjadi raja Majapahit ke-4 bergelar Prabu Brawijaya II.
21. Prabu Brawijaya II beristri Dewi Panurun, lair Arya Lembuamisani, bergelar Prabu Brawijaya III.
22. Prabu Brawijaya III kawin dengan Dewi Retno Penjawi, lahir Prabu Bratanjung dan bergelar Prabu Brawijaya IV.
23. Prabu Brawijaya IV beristri dua orng, selir satu orang, berputera lima orang. Dengan Dewi Tampen lahir Arya Angkawijaya yang kemudian bergelar Prabu Brawijaya V.
24. Prabu Brawijaya V beristri dan selir banyak, berputera 117 orang:
a. Dengan istri dari Champa/China lahir Raden Fatah (nomor 13) menjadi Adipati di Demak dan menjadi raja bergelar Sultan Sah Alam Akbar Sirrullah Khalifaturrosul Amirul Mukminin Tajuddin Abdul Hamidul Haq, atau Sultan Adil Surya Alam.
b. Dengan puteri Wandan berputera Raden Bondan Kejawan (nomor 14) bergelar Ki Ageng Tarub III yang kemudian kawin dengan Dewi Nawangsih dan berputera tiga. Putera nomor dua bernama Raden Depok yang bersahabat dengan Sunan Mojo Agung dan diambil menantu, diberi gelar Ki Ageng Getas Pendowo.
25. Ki Ageng Getas Pendowo beristri dua orang, berputera 12 orang. Dengan puteri Sunan Mojoagung lahir Bagus Senam yang kemudian bergelar Ki Ageng Selo.
26. Ki Ageng Selo beristri dua orang, berputera 14 orang. Dengan istri mudanya, lahir Ki Ageng Henis atau Ki Ageng Ngenis atau Ki Ageng Laweyan.
27. Ki Ageng Ngenis beristri puteri dari desa Selo berputera dua orang, yang pertama bernama Bagus Kuncung atau Ki Ageng Pemanahan.
28 Ki Ageng Pemanahan beristri satu dan mempunyai beberapa selir, berputera 31 orang. Dengan istri resmi (mungkin puteri Nyai Ageng Saba istri Ki Ageng Sueb) lahir Raden Bagus Danar atau Raden Ngabehi Sutowijoyo yang kemudian mendirikan kerajaan Mataram dan menjadi raja.

VIII. Kerajaan Mataram
29. Panembahan Senopati Sutowijoyo beristri banyak, berputera 23 orang. Dengan istri dari Pati berputera Raden Mas Jolang menjadi raja Mataram dengan gelar Kanjeng Susuhunan Hadi Prabu Anyakrawati. Meninggal dunia ketika berburu di hutan Krapyak, selanjutnya dikenal dengan Kanjeng Sunan Seda Krapyak atau Panembahan Krapyak.
30. Raden Mas Jolang kawin dengan ratu Adi, lahir Raden Mas Rangsang menjadi raja Mataram bergelar Kanjeng Sultan Agung Prabu Anyokrokusumo Senopati Ing Alogo Ngabdurrahman Sayidin Panata Dinan Ing Mataram.
31. Sultan Agung mempunyai beberapa orang istri dan berputera 12 orang. Dengwan Ratu Kilen (Batang), berputera Raden Mas Sayudin kemudian bergelar Sunan Amangkurat Agung.
32. Sunan Amangkurat Agung kawin dan berputera 22 orang;
a. Dengan ratu Kilen (Surabaya) berputera Raden Mas Rachmad yang kemudian menjadi raja Mataram Kartasura dan pengukuhannya dilakukan di atas geladak kapal Admiral, kemudian bergelar Sunan Amangkurat Amral.
b. Dengan Ratu Ageng berputera Raden MAs Derajad atau Pangeran Puger, yang kemudian menjadi raja di Mataram Kartasura, bergelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwono I di Kartasura.
33. Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Ikawin dan berputera 22 orang. Putera nomor 5 bernama Raden Mas Surya menjadi raja di Kartasura bergelar Prabu Amangkurat Jawi.
34. Kanjeng Susuhunan Amangkurat Jawi, kawin dan berputera 42 orang. Dengan Ratu Ageng, berputera Raden Mas Sandi (nomor 10) menjadi raja Kartasura bergelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwono II, dan memindahkan keraton dari Kartasura ke Surakarta. Dengan Ratu Ayu Tejowati berputera Raden Mas Sujono (nomor 21) yang kemudian menjadi raja Yogyakarta bergelar Kanjeng Sultan Hamengkubuwono I...dst.
35. Kanjeng Susuhunan Pakubuwono II selanjutnya menurunkan raja-raja Surakarta, dan Kanjeng Sultan Hamengkubuwono I menurunkan raja-raja di Keraton Yogyakarta. (*)


diambil dari Buku Babad Tanah Kendal karya Ahmad Hamam Rochani,

Rabu, 15 Juli 2009

Pangeran Sambong: Asal-usul Desa Sambungsari

Adalah Tumenggung Prawiro Setya atau Pangeran Sambong salah satu petinggi Mataram yang mengikuti pertemuan di paseban Kemangi dalam rangka persiapan menyerang VOC di Batavia. Ada tuturan lagi bahwa Pangeran Sambong adalah seorang keturunan China yang nama aslinya Sam Hong. Nama orang penting dari Mataram itu pada catatan cerita tutur erat sekali hubungannya dengan asal-usul terjadinya Kota Weleri (Nyai Damariyah), terlebih Desa Sambongsari.

Tentang nama Sam Hong pada diri Pangeran Sambong bisa dijadikan sebagai petunjuk bahwa tokoh sejarah masa lalu sudah terdiri dari berbagai suku dan bangsa. Dan seandainya benar Sambong itu berasal dari Sam Hong, juga bukan sebagai sesuatu kejadian yang aneh. Nama Sam Hong in erat sekali dengan adanya sebuah makam, yang konon katanya makam itu punya nama Nyah Ka Han. Petilasan Nyah Ka Han itu ada di sebelah balai desa Sambongsari. Petilasan itu hanya diberi tanda dua buah bakiak atau sandal yang terbuat dari kayu lunak.

Sebai pemimpin-pemimpin lainnya, Tumenggung Prawiro Setya atau Pangeran Sambong tidak diperkenankan kembali ke Mataram. Ia kembali dari Batavia satu rombongan dengan Raden Muthohar dan Raden Haryo Sungkono. Perpisahan ketoga tokoh Mataram terjadi setelah Raden Muthohar dan Raden Haryo Sungkono berketatapan tinggal di daerah yang dinamakan Sembung Tambar. Tumenggung Prawiro Setya kembali bertapa kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat dan menjadi warga masyarakat biasa. Artinya, gelar kebesarannya sebagai tumenggung dilepasnya dengan sukarela. Tetapi masyarakat sudah mengetahui bahwa ia adalah seorang petinggi Mataram yang ikut berperang melawan Belanda di Batavia.

Disebutkan dalam cerita tutur bahwa kehidupan di sebelah barat desa Sembung Tambar, ia bersama-sama dengan tokoh seperguruannya bernama Bah Brontok, seorang tokoh keturunan China. Tokoh lainnya ada yang menuturkan bernama Bagus Wuragil juga dikenal dengan nama Den Bagus Banteng dan Benowo. Nama yang terakhir itu bukanlah Benowo yang melekat erat dengan Pangeran Benowo putera Jaka Tingkir (ada yang menyebut Denowo bukan Benowo).

Pangeran Sambong dan Bah Brontok adalah sama-sama murid Tumenggung Rajekwesi atau Ki Ageng Kemangi. Namun keduanya bertolak belakang dalam menempatkan tujuan belajar pada Ki Ageng Kemangi. Pangeran Sambong cenderung pada aliran putih, sedangkan Bah Brontok lebih pada aliran hitam.

Tempat paseban Pangeran Sambong diceritakan berada di sebuah perbukitan, sebelah desa Sambongsari. Tempatnya di tengah-tengah hutan jati, yang sekarang ini dipercayai sebagai makam Pangeran Sambong. Di samping makam/patilasan Pangeran Sambong ada sebuah makam/patilasan lagi, yang dituturkan milik putera Pangeran Sambong bernama Pangeran Langsih.

Sebagaimana di daerah-daerah lain, Pangeran Sambong juga melaksanakan tugas penyiaran agama Islam dengan cara yang disesuaikan dengan keadaan.
Begitu mengenal nama Pangeran Sambong, ingatan kita tentu tertuju pada seorang tokoh dalam lakon sinetron. Dalam sinetron tersebut, disebut-sebut dengan Raden Samba, yang konon seorang putera adipati.

Melihat masanya, Raden Samba memang sejaman dengan tokoh-tokoh pejuang dari Mataram. Apakah nama Raden Samba yang kemudian hari ada kemirpa dengan Pangeran Sambong? Tentunya memang tidak gampang untuk cepat menjawab dengan "Ya" . Namun bila diperhatikan namanya, memang tidak terlalu jauh antara Raden Samba dengan Raden Sambong. Dengan demikian paling tidak ada kedekatan dengan Paseban Kemangi.

Hidup sejaman dengan Bah Brontok, ternyayta hubungan antara pangeran Sambong dengan Bah Brontok bagai minyak dengan air. Meskipun mereka sama murid Ki Ageng Kemangi atau Tumenggung Rajekwesi, keduanya mempunyai visi keilmuan yang berbeda. Dialog soal kunci kehidupan antara keduanya tokoh itu memang sering dilakuukan. Namun selalu tidak menemukan titik yang bagus.

Demikianlah alkisah menyebutkan, bahwa suatu hari Bah Brontok melakukan adu ayam dengan Pangeran Sambong. Ayam Petarung Pangeran Sambong berwarna merah penatas, sedangkan milik Bah Brontok berwarna jali. Tempat beradunya ditentukan yaitu di daerah Cakra Kembang, dekat Sungai/Kali Kutho. Orang yang suka melihat adu ayam tidak berani melihat dari jarak dekat, cukup dari kejauhan dan di tempat yang agak tinggi. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Tegalan Sedengok.

Setelah usai adu ayam, keduanya selalu memandikan ayamnya di sungai dekat Cakra Kembang. Oleh masyarakat, sungai itu dikenal dengan nama sungai/kali jenes (kotor). Ada yang menarik dalam adu ayam itu. Ketika selesai adu ayam, dan jika ayam Bah Brontok kalah tarung, maka dilanjutkan dengan perang tanding antarpemiliknya. Yang sering melakukan pertarungan dalam cerita tutur adalah Bah Brontok dan Bagus Wuragil, yang konon masih adik Pangeran Sambong.

Ada tuturan lagi, dalam adu ayam, Bah Brontok sering melakukan kecurangan-kecurangan. Melihat lawannya senang dengan kecurangan, maka Pangeran Sambong juga melakukan taktik yang sama. Pada salah satu kaki ayam milik Pangeran Sambong diberinya tutup kaki yang terbuat dari bambu, sehingga kelihatan bahwa kaki ayam miliknya disambung dengan bambu (pring-Jawa). Dengan demikian warna kulit kaki ayam itu menjadi tidak sama. Maka di Dukuh Bojengan, yang letaknya tidak jauh dari Cakra Kembang itu bila ada ayam yang warna kulit dua kaki yang berbeda diyakini bahwa ayam itu adalah milik Pangeran Sambong.

Tempat padepokan kedua tokoh itu memang tidak terlalu jauh. Pangeran Sambong tinggal di daerah yang bernama Sambong atau hutan Sambongan, sedangkan Bah Brontok tinggal di Alas Buntu di daerah Krengseng. Tempat yang pernah dijadikan ajang tadnign kesaktian oleh keduanya itu sekarang dengan nama Randu Sigunting. Disebut demikian karena pohon Randu itu tumbuh bercabang seperti gunting.

Sedangkan tempat lain, dituturkan berada di sekitar makam Penyangkringan sekarang. Pada jaman dulu, di dekat makam itu ada bekas tapak kuda Pangeran Sambong di sebuah tunggak jati. Bahkan pertarungan antara Bagus Wuragil dengan Bah Brontok jga pernah terjadi. Kejar mengejar antara keduanya hingga sampai hutan Seklayu yang terletak di daerah Lebo Krengseng. Dan di hutan itulah ada dua makam yang dikatakan oleh masyarakat sebagai makam atau patilasan Bagus Wuragil dan Bah Brontok.

Bagus Wruagil disebut dengan Den Bagus Banteng karena dalam pertarungannya dengan Bah Brontok, sepak terjangnya seperti kekuatan banteng. Dalam pertarungan dua tokoh itu, keduanya mencapai puncak pertarungan dengan meninggal secara bersama (Mogo bothongo - sampyuh).

Nama isteri Pangeran Sambong memang tidak jelas sosoknya. Sedangkan Nyai Wungu adalah sosok tokoh wanita yang terlebih dahulu datang di tempat itu. Begitu pula tentng Nyai Damariyah atau Sri Pandan atau Pandansari, tokoh wanita itu lebih muda dari Pangeran Sambong. Pertemuan tiga tokoh tersebut ternyata membawa berkah, karena ketiganya pernah bertemu di suatu tempat sebelum tinggal di daerah barunya itu. Tempat pertemuannya sekarang disebut-sebut dengan Sambung yang diambil dari pertemuan ketiga tokoh itu bisa menyambung persaudaraan kembali.

Dikisahkan bahwa Nyai Damariyah atau Sri Pandan adalah sosok wanita yang sangat cantik, dan diperebutkn oleh Bagus Wuragil dan Denowo (bukan Pangeran Benowo). Dalam cerita tutur itu diterangkan dengan jelas bahwa hati Nyai Damariyah lebih condong ke Bagus Wuragl. Karena dirinya menjadi rebutan dua tokoh yang sama-sama pengikut Pangeran Ssambong, hatinya sangat gelisah. Maka ia memilih hidup dengan Nyai Wungu.

Oleh Pangeran Sambong juga Nyai Wungu dinasihatkan, kalau Nyai Damariyah ingin tenang dari perebutan dua orang yang sama-sama menjadi sahabatnya, lebih baik Nyi Damariyah pergi ke tempat Ki Sido Mukti, yang letaknya di sebelah timur Sambongan.
Ki Ageng Sido Mukti sangatlah prihatin karena adanya perseteruan dua sahabat Nyai Damariyah yang memperebutkan Nyai Damariyah. Oleh Ki Ageng Sdo Mukti, Nyai Damariyah diperintahkan untuk mencucui beras (mesusi-Jawa). Sebagaimana biasanya tempat mencuci beras itu dilakukan di sungai. Diberitahukan oleh ki Sido Mukti bahwa ketika Nyai Damariyah mesusi beras, maka telusurilah di mana letak berhentinya air cucian (pesusan) beras itu. Di tempat berakhirnya air pesusan itulah Nyai Damariyah bisa hidup tenang dan tidak akan diganggu oleh siapapun.

Air pesusan beras itu disebut orang dengan "Leri". Ketika Nya Damariyah menelusuri di mana berhentinya air leri itu, ternyata berhenti tepat di bawah dua pohon pandan yag tumbuh berdampingan, dan ada pohon Lo, pada waktu itu disebut orang dengan nama pohon cangkring. Sehingga daerah di sekitar pohon Lo itu sekarang in dikenal dengan nama desa Penyangkringan. Sedangkan nama Nyai Damariyah dipanggil banyak orang dengan nama Nyai Pandansari atau Sri Pandan. Sedangkan sungai yang menjadi tempat mesusi/mencuci beras akhirnya dikenal dengan Sungai Damar atau Kali Damar.

Tentang akhir kehidupan Nyai Damar, ia memang lebih suka bertapa dan tempat yang dipilihnya adalah di bawah pohon pandan. Konon Nyai Damar yang sukses bertapa itu menjadi tokoh sakti pilih tanding. Tempat pertapaannya yang terakhir adalah di bawah pohon pandan yang terletak di tepi laut (pantai dekat hilir sungai Damar/Laut Jawa). Dan sudah menjadi catatan khusus masyarakat Weleri bahwa desa itu mempunyai "danyang" seorang wanita yaitu Nyai Pandansari. Wallahu Alam.


dikutip dari buku Babad Tanah Kendal karya Ahmad Hamam Rochani,

Minggu, 05 Juli 2009

Kyai Kendil Wesi (bag 2)

Usaha Pembunuhan pun beberapa kali dilakukan. Bahkan menurut cerita itu, Jaka Menot pernah dilarung ke laut, namun masih bisa selamat. Dan ketika ada usaha untuk meracuni melalui pelayan kerabat, Jaka Menot jga selamat.

Maka tidak ada jalan lain kecual harus dibunuh, tetapi ada yang menyarankan cara itu memang kurang baik. Maka cara yang terbaik Jaka Menot diusir dari kadipaten. Setelah meninggalkan kadipaten, maka diatur supaya ada punggawa mengejarnya dengan maksud untuk membunuh Jaka Menot.

Ada tuturan lagi, bahwa baik orang-orang kabupaten ataupun Belanda, merasa takut dengan kemampuan spiritual Bagus Aminoto. Diterangkan, kemampuan seorang remaja yang baru berusia belasan tahun sudah diketahui biasa bermain-main batu dan rumput. Konon batu-batu itu dibuat semacam tasbih dengan cara ditusuk dengan rumput dan ternyata bisa tembus.

Jaka Menot lari ke arah barat dan ternyata banyak juga orang merasa iba, karena para punggawa kakdipaten tersu mengejarnya untuk membunuh. Kenmudian ia ditolong oleh seorang tua. Namun pengejaran tersu dilakukan, dan orang tua yang diketahui menolong Jaka Menot, dibunuh. Kepalanya terpisah dari badannya, dan kakinya juga dipotong. Hanya tinggal badan (gembung). Di kemudian hari nama tempat membunuh orang tua itu terkenal dengan nama Bugangin.

Jaka Menot terus berlari mencari selamat. Karena merasa capek, ia beristirahat di sebuah pohon pinang (jambe). Ia terus dikejar oleh punggawa kadipaten. Setelah melihat para punggawa terus mengejar, Jaka Menot terus lari. Ketika para punggawa sampai di bawah pohon jambe itu, tercium bahwa ada bau harum pada pohon jambe. Maka tempat itu dinamakan Jambearum.


disadur dari buku 'Babad Tanah Kendal' karya Ahmad Hammam Rochani.

Siapa Kyai Kendil Wesi? : adakah hubungannya dengan Bagus Menot

Siapakah Kyai Kendil Wesi itu?
Menurut catatan Amien Budiman, Kyai Kendil Wesi itu nama aslinya adalah TUmenggung Singowijoyo. Bupati Kendal ini tewas di gunung Tidar Magelang ketika terjadi geger Pakunegaran. Kemudian ia digantikan oleh kemenakannya dengan gelar Tumenggung Mertowijoyo. Dan setelah meninggal digantikan oleh adiknya dengan nama kehormatan yang sama yaitu Tumenggung Mertowijoyo, yang meninggal di Loji Semarang. Tumenggung ini mempunyai putera yang bernama Mertowijoyo yang kemudian lebih dikenal dengan Mertowijoyo I.

Sedangkan catatan yang beredar di Kendal menerangkan bahwa yang dimaksud Kyai Kendil Wesi adalah bupati Kendal yang memiliki nama Mertowijoyo II, adik dari Tumenggung Singowijoyo yang memerintah pada tahun 1700 - 1725. Meninggal dan dimakamkan di pemakaman Pekuncen Kendal. Sedangkan pusakanya yang bernama Kendil Wesi diwariskan pada puteranya yang namanya juga nunggak semi dengannya yaitu Mertowijoyo III. Setelah meningal dunia, jenazah dan pusaka Kendil Wesinya dimakamkan di bawah pohon Doropayung Desa Sukolilan Patebon Kendal.

Nama Mertowijoyo jgua ditemukan dalam buku Serat Babad Negari Semarang dan Babad Mentawis. Dalam Serat Babad Nengari Semarang diterangkan bahwa nama Mertowijoyo itu masih ada hubungannya dengan Ki Ageng Pandan Aran I (Ki Mode Pandan), penguasa Semarang atau Tirang Amper, yang berarti ada hubungan garis keturunan dengan Raden Fatah, Sultan Demak.

Lengkap silsilahnya disebut sebagai berikut; Raden Fatah (Demak) berputera Pangeran Sabrang Lor, berputera Pangerawn Pandan Aran I (Ki Mode Pandan), berputera Pangeran Kanoman bupati Semarang (adik Sunan Tembayat), berputera Kyai Khalifah, berputera Kyai Laweyan, berputera Kyai Sumendhi (Kyai Alap-alap, bupati Semarang), berputera Kyai Rangga Hadi Negoro (Surahadimenggala ke-2, bupati Semarang), berputera Kyai Ronggo Mertoyuda (Surahadimenggala ke-3, bupati Semarang), berputera Kyai Mertowijyoyo.

Namun menurut cerita yang dicatat dala buku peninggalan-peningglan kunodi Kendal disebutkan bahwa Mertowijoyo berasal dari Lumajang. Karena ada selisih keluarga dengan adiknya, ia mengalah dan membawa pengikutnya berlayar dan akhirnya terdampar di Kendal.
bersama pengikutnya ia membuka suatu daerah sebagai tempat tinggal, dan karena ia mempunyai sebauh pusaka yang berwujud kendil terbuat dari bes, maka ia terkenal dengan nama Kyai Kendil Wesi. Ia meninggal ketika geger pakunegaran di gunung Tidar Magelang, dan jenazahnya dimakamkan di Pekuncen Kendal. Sedangkan jabatan bupati jatuh ke tangan Mertowijoyo III, putera Mertowijoyo I berikut pusakanya.

Kemudian siapa yang dimaksud dengan Bagus Menot?
Diceritakan bahwa ia putera Tumenggung Mertowijoyo. Namun tidak jelas Mertowijoyo yang mana. Namun kalau dilihat dari cerita yang beredar di Kendal bahwa ia adalah putera adipati tetapi akhir hayatnya mukso tanpa nama. Bisa jadi ia adalah putera Adipati Mertowijoyo I. Sebab, ketika Mertowijoyo I meninggal dunia, jabatan bupati diwakili oleh patihnyasendiri (lihat dan perhatikan dalam nama-nama Bupati Kendal di bagian akhir).

Seperti diceritakan oleh juru kunci makam Bagus Menot, Pak Puji (50), serta para orang tua yang suka dengan cerita tempo dulu, bahwa Bagus Menot adalah putera seorang adipati. Ketika ayahnya kembali dari berperang (geger Pakunegaran) ia dalam keadaan terluka parah karena terkena sabetan senjata. Sedangkan isterinya dalam keadaan hamil. Sebelum Mertowijoyo meninggal dunia, ia berpesan kepada semua kerabat bahwa kelak yang menggantikan dirinya menjadi bupati Kendal adalah putera yang masih dalam kandungan. Bila ia nanti lahir laki-laki, harap diberi nama Jaka Aminoto. Dan apaibila menduduki kursi bupati namanya Adipati Aminoto. Begitu pesan ayahandanya, Mertowijoyo. Ada tuturan lagi, selain bernama Aminoto jga punya nama lain yaitu Raden Sutejo.

Kelahiran bayi Aminoto bersamaan dengan kematian sang ibu. Maka bayi Aminoto dirawat oleh keluarga. Ketika mencapai usia dewasa, kira-kira 17 tahun, malapetaka menimp dirinya. Orang yagn menduduki jabatan bupati warisan dari ayahnya merasa resah karena pewaris yang asli sudah tumbuh dewasa. Maka tidak ada jalan yang terbaik kecuali harus menyingkirkan sang pewaris dengan cara apapun.

selanjutnya...(klik di sini)

disadur dari buku 'Babad Tanah Kendal' karya Ahmad Hammam Rochani

Minggu, 05 April 2009

Nama-nama Bupati Kendal dan Kaliwungu

Dalam catatan yang ada di arsip Kabupaten Kendal, nama-nama bupati Kendal tidak tercatat adanya nama Raden Ronggo Hadimenggolo sampai dengan Hadinegoro III. Dengan demikian, maka sebelum pemerintahan dipindahkan ke Kota Kendal, maka Kaliwungu merupakan induk atau pusat pemerintahan. Sehingga tujuh orang keturunan Panembahan Djoeminah itu adalah Bupati Kaliwungu. Di bawah ini ada catatan tentang nama-nama bupati Kendal mulai Tumenggung Bahurekso sampai Bupati H. Hendi Boedoro, SH.,M.Si, yang merupakan bupati ke-37.

1. Tumenggung Bahurekso
Sejak kapan Tumenggung Bahurekso diangkat sebagai Adipati Kendal, memang belum ditemukan data yang resmi. Tetapi H.J De Graaf, sejarawan Belanda yang sudah berhasil menulis beberapa soal Javalogi mengatakan bahwa tahuan 1615, ketika pertama kali utusan dagang VOC berkeinginan menghadap Sultan Agung, Raja Mataram, diwajibkan terlebih dahulu menghadap Tumenggung Bahurekso, Adipati Kendal. Akan tetapi ada catatan yang menerangkan bahwa Tumenggung Bahurekso diangkat menjadi Bupati Kendal pada hari Jumat Kliwon, tanggal 12 Robiul Awal tahun 1023 H, bertepatan dengan dengan tanggal 8 September 1614, dengan gelar Raden Tumenggung Bahurekso.
Akhir pemerintahannya sampai dengan 26 Agustus 1628, gugur melawan tentara Belanda di Batavia, 21 Oktober 1628.

2. Raden Ngabehi Wiroseco (1629 - 1641)
Penggati Raden Tumenggung Bahurekso adalah Raden Ngabehi Wiroseco, sahabat dekat dengan Pangeran Benowo (putra Sultan Hadwijoyo). Tokoh ini hanya menjabat sebentar karena meninggal dunia dan tidak meninggalkan putra. Setelah itu RadenMgabehi Wiroseco digantikan oleh tokoh yang mempunyai nama sama, yaitu Wiroseco, yang semula penguasa jepara. Tapi Raden Wiroseco yang satu ini memng tidak lama berkuasa di kendal, karena atas usul VOC ia ditarik lagi ke jepara. maka dari tahun (1629 - 1641), jabatan bupati kendal dijabat oleh dua orang, dengan nama yang sama, yaitu Raden Ngabehi Wiroseco(catatan Amen budiman, Menyingkap Sejarah Kendal seri V).

3. Raden Ngabehi Mertoyudo (1641 - 1649)
Bangsawan asal Mataram. Dan pada awal pemerintahanya, Kerajaan Mataram telah terjadi alih kekuasaan dari Sultan Agung (1645) kepada puteranya, Sultan Amanfkurat I.

4. Raden Ngabehi Wongsodiprojo (1649 - 1650)
Bangsawan asal Mataram. Menjabat baru beberapa bulan sudah wafat.

5. Raden Ngabehi Wongsowiroprojo (1650 - 1661)
Putera dari Raden Ngabehi Wongsodiprojo (Bupati ke -4)

6. Raden Ngabehi Wongsowirosroyo (1661 - 1663)
Putera dari Raden Ngabehi Wongsodiprojo (Bupati ke -5)

7. Tumenggung Singowijoyo I atau Singowonggo (1663 - 1668)
Putera dari Raden Ngabehi Wosongwirosroyo (Bupati ke -6). Pada tahun 1677 di utus Sunan Amangkurat I untuk memulihkan keadaan di jakarta sehubungan dengan aksi orang- orang cina yang melawan belanda. dan tahun 1677 ini pula terjadi alih kepemimpinan mataram dari Sunan Amangkurat I ke Adipati Amon atau sunan amangkurat II, dan Tumenggung Singowijoyo I wafat 1688,tanpa sakit.

8. Tumenggung Mertowijoyo I (1688 - 1700)
Putera Raden Tumenggung Ngabehi Singowijoyo I (Bupati ke -7) wafat 1694, dan selanjutnya diwakili oleh pamannya yang (juga) bernama Singowijoyo, hingga 1700. Nama Tumenggung Mertowijoyo juga ditemukan dalam buku Babad Mentawis dan Serat Babad negari semarang. Seperti dituturkan oleh Amen Budiman Bahwa Tumenggung Mertowijo tewas dalm peristiwa geger pakunegaran di wilayah kedu, kelihatannya mendapat dukungan dari babad Mentawis. Sebab buku itu menerangkang bahwa Tumenggung Mertowijoyo ambil bagian secara aktif dalam peristiwa tersebut. Sedangkang dalam serat babad negeri semarang diterangkan bahwa nama Tumenggung Mertowijoyo erat hubungannya dengan Ki Ageng Pandan Aran Atau Ki mode pandan. diterangkang lagi bahwa garis nasab Mertowijoyo dimulai dari pangeran Kanoman, adik Sunan Tembayat. bila catatan itu sesuai dengan yang dimaksud, maka Tumenggung Mertowijoyo ada garis Lurus dengan Sultan Akbar AL- Fatah dari Kerajaan Demak.

9. Tumenggung Mertowijoyo II (1700 - 1725)
Adik dari Raden Tumenggung Singowijoyo I (Bupati KE-7), atau Paman dari Tumenggung Mertowijoyo I. Tumenggung Mertowijoyo II ini juga di sebut Kyai Kendil Wesi, karena punya pusaka berwujud kendil yang terbuat dari besi. wafat tahun 1725 dan dimakamkan dipemakaman pakucen, kebondalem, kecamatan kota kendal, sedangkang pusakanya dimakamkan dipesarean Doropayung, sukolilan, patebon , kendal. Dua tahun setelah Tumenggung Mertowijoyo II di angkat, tahun 1703 Sunan Amangkurat II meninggal dunia, dan di ganti puterannya, Sunan Mas, yang bergelar Sunan Amangkurat III. Pada masa keemasan, Murah sandang dan murah pangan

10. Tumenggung Mertowijoyo III (1725 - 1739)
Putera Tumenggung Mertowijoyo I (Bupati ke - 8), dimakamkan di pesarean Doropayung - patebon - kendal, bersebelahan dengan makam pusaka kendil wesi. Bisa jadi pusaka itu diserahkan oleh Tumenggung Mertowijoyo II kepada puteranya, Tumenggung Mertowijoyo III, sebagai adat kelangsungan pemerintah, sebagaimana dulu Kyai Plered diwariskan kepada Sultan Agung.

11. Tumenggung Singowijoyo II (1739 - 1754)
Putera kedua dari Tumenggung Singowijoyo I (bupati ke-9), dimakamkan di Loji Wurung Semarang. Jabatan bupati kosong, diwakili oleh Patih Mertomenggolo asal Jepara sampai tahun 1755.

12. Tumenggung Soemonegoro I (1755 - 1780)
Putera dari Adipati Soerohadimenggolo, Adipati Semarang, 1755 - 1780. Ketika itu di Mataram terjadi Perjanjian Gianti. Mataram dibagi menjadi dua; Yogyakarta dikuasai oleh Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I. Sedangkan Surakarta dikuasai oleh keturunan Paku Buwono II, yang kemudian digantikan oleh puteranya Paku Buwono III.

13. Tumenggung Soemonegoro II (1780 - 1785)
Putera Adipati Soemonegoro I (bupati ke-12). Didampingi seorang patih bernama Ronggodipowongso, yang menjabat patih hingga 1880.

14. Tumenggung Soerohadinegoro II (1780 - 1785)
Putera kedua Adipati Soemonegoro I (bupati ke-12).

15. Raden Tumenggung Prawirodiningrat I
Semula bupati Demak (1896 - 1811). Setelah Adipati Prawirodiningrat wafat, selama dua tahun pemerintahan Kabupaten Kendal dilaksanakan oleh Patih Wiromenggolo hingga 1813.
Pada tahun 1811, pemerintah Inggris membangun jalan raya Dandels yang melalui Kaliwungu - Kendal. Atas usul Patih Wiromenggolo, ibukota Kabupaten Kaliwungu akan dipindahkan ke Kota Kendal dengan alasan:
  • Letak Kaliwungu kurang strategis karena sering dilanda banjir, sedangkan sebelah selatan terdiri tanah yang berbukit-bukit.
  • Kota Kendal tanahnya datar dan cukup luas, letaknya juga dekat pantai yang baik.
Pada tahun 1812 pemerintah Inggris menyetujui pemindahan ibukota tersebut. Untuk pertama kali rumah kabupaten/pendopo dibangun menghadap ke Jalan Dandels, yang kemudian disebut Jalan Pungkuran dan sekarang dinamakan Jalan Pemuda.
Pada tahun 1813, pemerintah Inggris menobatkan putera alamarhum Tumenggung Prawirodiningrat I sebagai Bupati Kaliwungu terakhir dan Bupati Kendal yang pertama (hapusnya istilah/sebutan Kabupaten Kaliwungu) dengan gelar Pangeran Ario Prawiradiningrat II.

16. Raden Tumenggung Prawirodiningrat II (1813 - 1830)
Putera dari R.T. Prawirodiningrat I (Bupati ke-15). Dan mulai tahun 1829, bergelar Pangeran Haryo (PH), wafat tahun 1830, dimakamkan di Protowetan. Gelar Pangeran Haryo diperoleh karena adipati Kaliwungu ini membantu Belanda ketika perang Diponegoro. Selanjutnya pemerintahan dijalankan oleh Patih Kaliwungu hingga tahun 1832. Dan Patih Kaliwungu ini juga disebut Tumenggung Kasepuhan, rumah terakhir kepatihan Kaliwungu, wafat tahun 1434, dimakamkan di Protowetan, Kaliwungu. Bersamaan dengan pemerintahan Prawirodiningat II, Pulau Jawa dikuasai oleh Inggris, dan Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal.

17. Raden Tumenggung Purdadiningrat atau Prododingrat (1832 - 1850)
Menantu R.T Prawirodiningrat II, 1832 - 1850. Mungkin karena dipandang sangat memebahayakan Belanda, maka Bupati Kendal ini diasingkan ke Manado. Sehingga oleh masyarakat disebut Adipati Kendhang.

18. KRT. Soerohadiningrat atau soerohadi diningrat atau Sosrodiningrat (1850 - 1857)
Berasal dari Gresik, kemudian tahun 1857 dipindah ke Purbolinggo.

19. Pangeran Ario Notoproto atau Notohamiprojo (1857 - 1890)
Wafatnya dimakamkan di Protowetan.

20. Raden Mas Adipati Notonegoro (1891-1914)
Putera Pangeran Adipati (bupati ke-19), diangkat tahun 1891, wafat tahun 1914, dimakamkan di Protowetan.

21. Raden Mas Adipati Aryo Notohamijoyo (1914 - 1938)
Putera dari RMA. Notonegoro (bupati ke-20). Nama aslinya Raden Muhammad. Wafat Desember 1949. Karena ada halangan, diwakili oleh patih Kendal, Raden Notomoedigdo.
Pada waktu pemerintahan Adipati Aryo Nothamiprojo, Pemerintah Belanda mulai memberi wewenang kepada bupati untuk bertindak sebagai College van commomiteerden seperti Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan kemudian ada lagi satu lembaga yang mengurusi keuangan desa dan pasar-pasar. Lembaga ini berjalan mulai tahun 1939.

22. Raden Mas Purbonegoro atau Poerboatmojo Adisoerjo (1939 - 1942)

23. Patih Kendal, Raden Koesumohoedojo (1942 - 1945)
24. Soekarmo, anggota Syusangiin,
25. Raden Poeslam,
26. Raden Prajitno Partididjojo,
27. Raden soedjono,Bupati Blora (1957 - 1960)
28. Raden Abdurrachman,
29. Raden Gondopranoto,
30. Raden Salatoen, (1960 -1965)
31. Mayor R. Sunardi, Dandim Kendal, (1965 -1967)
32. Letkol RM Soeryosuseno, (1967 -1972)
33. Drs. H. Abdussaleh ranawijaya, (1972 - 1979)
34. Drs. H. Herman Soemarmo, (1979 - 1984)
35. H Soedono Jusuf, BA (1984 - 1989)
36. H Soemojo Hadiwinoto, SH (1989 - 1999)
37. Drs. H. Djoemadi (1999 - 2000)
38. H. Hendy Boedoro, SH, MSi (2000 - 2008)

Kamis, 21 Agustus 2008

Sejarah Kabupaten Kendal

Setiap keberadaan suatu bangsa atau daerah tidak pernah lepas dari sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah meninggalkan begitu saja sejarah bangsa tersebut.

Sejarah Kendal sendiri dalam buku "Babad Tanah Kendal" karya Ahmad Hamam Rochani, menyebutkan banyak sekali yang melatar belakangi nama Kendal. Ada yang menyebut dengan Kendalapura atau Kontali atau Kentali. Namun Babad Tanah Jawi menyebutnya bahwa Kendal berasal dari nama sebuah pohon, yaitu Pohon Kendal. Begitu pula tentang Kendal sebagai sebuah negeri, memang tenggelam oleh kerajaan atau negeri-negeri besar. Namun pada akhirnya negeri Kendal menjadi catatan sejarah nasional dan bahkan internasional karena catatan sejarahnya disimpan di sebuah perguruan tinggi terkenal di Nederland yaitu Universitas Leiden Belanda. Menurut Penulis, dipakai kata babad karena kupasannya dari cerita yang mengandung sejarah. Kalau diartikan secara umum Babad Tanah Kendal artinya cerita sejarah tentang tanah Kendal.
Oleh karena itu, penekanan dalam hal ini adalah cerita, bukan sejarah yang harus dibuktikan dengan fakta. Sehingga mungkin akan dijumpai hal-hal yang kadang lain di telinga atau bertentangan dengan pemahaman yang sudah melekat erat di pikiran masyarakat.