Selasa, 30 Juni 2015

Ardhiwana dalam Merbabu 2015: KENTENG SONGO JALUR SELO



Sejatinya, rombongan Ardhiwana meluncur dari kampus SMA (tempat berkumpul) pada Jumat (12/4/2015) jam 13.30, namun mobil terlambat hampir satu setengah jam. Akhirnya rombongan mulai meninggalkan kampus pada jam 3 sore. Menuju Kabupaten Boyolali, Kecamatan Selo, Desa Tarubatang, Dukuh Genting.

Yah, Ardhiwana akan melaksanakan kegiatan Purna Anggota. Kegiatan ritual untuk anggota kelas 12 yang baru lulus. Bukan mendaki Merapi. Melainkan Gunung yang memiliki ketinggian 3142 meter dari permukaan laut (mdpl), Gunung Merbabu dengan puncaknya, Kenteng Songo.
Setiba di basecamp Selo pada pukul 9 malam, Masdur selaku pembina langsung menginstruksikan agar peserta istirahat di basecamp Pak Parman. Setelah dirasa cukup dan peserta melakukan packingbag, satu jam kemudian dimulailah perjalanan pendakian. “Sebelum kita melakukan perjalanan, sesuai agama dan kepercayaan masing berdoa, mulai!” seru Masdur mengakhiri pengarahan kepada 11 siswa selaku peserta. Dibantu seorang penunjuk jalan Bang Ambon, dan Prenges serta Gesbi selaku alumni, pendakian dimulai. Let’s Go to Gage Puncak Kenteng Songo.
Gapura Pendakian Jalur Selo menyambut ketika rombongan hendak memasuki hutan pinus. Pertanda pintu masuk pendakian dimulai. Sepanjang perjalanan awal, para peserta sangat riang. Berlagu, bersandau gurau mengiringi perjalanan malam mereka. Tak terasa POS 1: (N)Dok Malang. Namun, suasana mulai berubah setelah beberapa saat melewati pos tersebut. Salah satu peserta mulai ada yang mengalami efek perjalanan: Muntah. Dani Aching mulai merasa pusing tujuh keliling, dan... Hwu..hwu..hwueekkghgg... hwu..hwu.. eaghkhg..ghgh.. Dan, akhirnya atas intruksi pembina, rombongan dibagi dua. Mas Ambon diminta mengawal 9 peserta lainya untuk melanjutkan perjalanan. Sementara Masdur bersama dua alumni beristirahat mendirikan tenda sembari menunggu perkembangan kondisi Dani Acing yang ditemani Ketua Ardhiwana, Lupi Corong. Saat itu waktu menunjukkan jam 23.30 alias setangah duabelas malam. Huh..! Dinginya gak ketulungan.
Setelah istirahat kurang lebih 2,5 jam, meski kondisi Dani Acing masih sedikit pusing, rombongan yang dikawal Masdur melanjutkan perjalanan untuk menyusul rombongan pertama. Akan tetapi, keadaan tidak bisa dibohongi. Baru satu setengah jam perjalanan, Dani Acing kembali dengan kondisi semula, pusing, dan muntah-muntah. Dan, tenda pun kembali berdiri. “Kita istirahat sampai pagi” kata Masdur.
Sementara itu, rombongan pertama yang dikawal mas Ambon ternyata juga ngecamp di POS 2, Tikungan Macan, dan beristirahat menunggu rombongan kedua datang.
Dan, benar, setelah pagi tiba, Sabtu, sekitar pukul 6.30, rombongan kedua berniat melanjutkan perjalanan menyusul rombongan pertama. Namun, alangkah terkejut dan senangnya, karena tempat istirahat rombongan kedua hanya berjarak 10 menit ke arah POS 2, dimana rombongan pertama istirahat. Kedua rombongan pun bertemu. Dan, perjalanan berlanjut: SABANA I.
Uii..ckkck.. Kuasa Tuhan...
Decak kagum mengiring sejauh mata mereka memandang. Di sini adalah hamparan ilalang yang luas. Rasa lelah karena tenaga terkuras akibat harus menapaki bukit yang terjal dengan sudut kemiringan sekitar 45 derajat seakan terobati. Dari Sabana ini, ke arah selatan nampak panorama Gunung Merapi yang gagah dengan sekujur tubuhnya yang berlumuran pasir dan berasap. Layaknya raksasa yang sedang merokok. Bull.. asap ringan membumbung, rendah. Setengah jam terasa cukup untuk menikmati suasana tersebut dan mengumpulkan tenaga.
Rombongan melanjutkan perjalanan untuk kembali menapaki jalan yang tidak jauh berbeda. Melewati satu bukit di depannya: POS III Batu Tulis. Di sini rombongan kembali harus beristirahat untuk mengumpulkan tenaga agar pendakian menuju SABANA II tercapai. Dan, Berhasil. Lokasi ini kembali menyuguhkan view yang tidak jauh berbeda dengan Sabana I.
Tempat berikutnya diberi sebutan JEMBLONGAN. Pos  ini merupakan tempat lapang terakhir sebelum pendaki sampai ke puncak utama. Benar, setiba di tempat ini para ardhies –sebutan anggota ardhiwana-  disambut lambaian si tuan rumah, hutan eidelwes. Yah, rerimbunan besar itu adalah pohon eidelweis. Pohon yang biasanya kami temui itu setinggi tatapan muka orang dewasa, tapi di sini nampak pohon yang menjulang. Sehingga dikenal juga dengan Hutan Eidelweis.
Siapapun yang sudah sampai di sini, kami sarankan untuk istirahat yang cukup untuk mengambil nafas, kondisikan perut jangan sampai kosong –meski tidak harus kenyang,  dengan tujuan mengumpulkan tenaga sebanyak-banyaknya. Karena, di depan sudah menanti alur jalan yang memiliki sudut kemiring + 30-40 derajat. Curam, terjal. Sebelas duabelas lah dengan setting di film 5cm. Sehingga, dibutuhkan tenaga ekstra dan konsentrasi yang cukup agar terhindar dari kejadian seperti jatuh, terpeleset, dsb.
KENTENG SONGO I’M COMMING. Tepat pukul 13.00 alias jam satu siang tengah hari, rombongan Ardhiwana akhirnya tiba di puncak. Sebelas siswa dua alumni satu pembina dan satu pendamping. Lupi corong, Toni cumplung, Anggi thekol, Hafiz kapsul, Catur bon-bon, Nofal sruntal, Fendi sruntul, Made kerak, Dani aching, Wiwin kopling, dan Imron po (siswa), Prasongko gesbi, dan Anwar prenges (alumni). Beserta Pembina dan Pendamping Mas Ambon.
“Istirahat cukup” seru masDur. “Kita harus segera turun agar tidak kemalaman sampai basecamp”. Setelah semua berkemas dan berdoa perjalanan TURUN GUNUNG dimulai. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Selama perjalanan turun ini, sebenarnya banyak sekali cerita menarik, lucu, ngeri, dan cerita lain yang tidak bisa kami tuturkan di sini karena keterbatasan halaman. Yang jelas, para ardhies akhirnya sampai di basecamp meski terbagi 3 regu. Regu pertama tiba jam 9.30 malam, kedua jam 10, dan ketiga jam 11 malam. Paginya pulang ke Kendal.. go home..
Sampai di sini kawan-kawan, TERIMA KASIH.

Tidak ada komentar: